TARAKAN, Fokusborneo.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan memastikan fenomena banjir rob yang melanda sebagian wilayah pesisir Kota Tarakan dalam beberapa hari terakhir tidak memiliki kaitan dengan gempa bumi yang mengguncang kota ini pada Rabu (5/11/2025).
BMKG menegaskan, banjir rob merupakan fenomena alamiah akibat pengaruh gaya gravitasi bulan terhadap bumi, terutama saat fase bulan purnama.
Forecaster BMKG Tarakan, Ida Bagus Gede Yamuna, menjelaskan banjir rob atau banjir pesisir adalah peristiwa naiknya permukaan air laut ke daratan akibat peningkatan tinggi muka air laut. Fenomena ini biasa terjadi saat posisi bulan sejajar dengan bumi, yang memicu gaya tarik gravitasi kuat terhadap massa air laut.
“Banjir rob ini murni disebabkan oleh kenaikan tinggi muka laut akibat interaksi gaya gravitasi bulan terhadap bumi. Ketika posisi bulan sejajar dengan bumi, tarikan gravitasinya meningkat dan memengaruhi aktivitas pasang surut di perairan,” ujarnya, Jumat (7/11/2025).
Ia menegaskan fenomena ini tidak berhubungan sama sekali dengan gempa bumi yang terjadi hampir bersamaan dengan peristiwa supermoon pada 5 November. Gempa, katanya, disebabkan oleh aktivitas lempeng di bawah permukaan bumi, bukan oleh tarikan gravitasi bulan.
“Kalau gempa itu karena aktivitas lempeng di bawah tanah, sedangkan banjir rob dipicu oleh gaya gravitasi bulan. Jadi dua hal ini sangat berbeda dan tidak saling berkaitan,” tegasnya.
Menurut data BMKG Tarakan, fenomena banjir rob mulai terdeteksi sejak 5 November 2025, bertepatan dengan fase bulan purnama perigee atau supermoon, yaitu kondisi ketika bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi. Kondisi ini menyebabkan permukaan air laut meningkat hingga rata-rata 3,3 meter, yang menjadi ambang batas terjadinya genangan di wilayah pesisir Tarakan.
“Puncaknya terjadi pada 5 November kemarin. Berdasarkan data pasang surut, fenomena ini diperkirakan berlangsung hingga 10 November, dan akan berangsur menurun setiap harinya,” katanya.
Lebih lanjut dijelaskan, puncak pasang tertinggi harian di Tarakan biasanya terjadi pada sore hingga malam hari. Pada 5 November, puncak pasang tercatat sekitar pukul 18.00 Wita, sedangkan pada 7 November, pasang tertinggi terjadi sekitar pukul 19.00 Wita.
Selisih tinggi muka air laut antara pasang tertinggi dan surut terendah per jamnya berkisar antara 0,3 hingga 0,6 meter.
“Jadi setiap jamnya permukaan air laut bisa naik atau turun sekitar setengah meter. Saat puncak pasang, genangan di daerah pesisir bisa cukup luas, tapi akan surut perlahan setelah beberapa jam,” ujar Yamuna.
Ia menambahkan, fenomena banjir rob seperti ini tidak hanya terjadi di Tarakan, melainkan juga di wilayah pesisir lain di Indonesia yang terdampak gaya tarik bulan dalam fase purnama.
Pola kejadian biasanya mirip, dengan intensitas yang bergantung pada posisi bulan dan jarak relatifnya terhadap bumi.
“Saat bulan berada pada fase purnama atau bulan baru, selisih tinggi muka air laut per jam bisa mencapai 0,5 meter. Tapi ketika posisi bulan semakin dekat ke bumi, seperti saat supermoon, perbedaan itu bisa meningkat hingga 0,8 meter per jam,” terangnya.
BMKG Tarakan juga mengimbau warga untuk tidak panik dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak bersumber dari lembaga resmi. Yamuna menekankan pentingnya memantau informasi terkini melalui kanal resmi BMKG, baik website maupun media sosial.
“Kami harap masyarakat tetap tenang. Fenomena ini bersifat alami dan periodik, dan tidak berbahaya selama masyarakat tetap waspada di wilayah pesisir. Kalau menerima informasi yang simpang siur, sebaiknya klarifikasi dulu ke BMKG,” pungkasnya. (**)















Discussion about this post