BALIKPAPAN, Fokusborneo.com — Bank Sampah saat ini menjadi ujung tombak pengelolaan sampah di Balikpapan, tidak hanya menekan timbulan limbah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), tetapi juga berperan sebagai sarana edukasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Program ini mendorong warga untuk aktif memilah sampah anorganik, mengolahnya melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan memanfaatkan nilai ekonominya, sehingga setiap botol plastik, kardus, dan kertas yang dikumpulkan tidak berakhir sia-sia, sekaligus memberikan tambahan pendapatan bagi rumah tangga.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Balikpapan, Sudirman Djayaleksana mengatakan bank sampah menjadi strategi utama pemerintah kota dalam membangun kesadaran warga terhadap pengelolaan limbah.
“Bank sampah berperan penting untuk menekan sampah dari sumbernya. Masyarakat diajak untuk memilah sampah dan memanfaatkan nilai ekonominya. Ini bukan sekadar program lingkungan, tetapi juga memberi manfaat ekonomi nyata bagi warga,” ujar Sudirman.
Ia menjelaskan sampah anorganik yang disalurkan ke bank sampah, seperti botol plastik, kardus, dan kertas, diolah kembali menjadi bahan baku yang bisa dijual atau digunakan kembali.
“Dengan cara ini, sampah tidak hanya berkurang, tetapi juga bisa menjadi penghasilan tambahan. Setiap rumah tangga memiliki kesempatan ikut serta dalam ekonomi sirkular,” tambahnya.
Selain itu, DLH Balikpapan memperkuat sinergi dengan Bank Sampah Induk dan Bank Sampah Unit di setiap kelurahan.
Salah satu inovasi penting adalah Bank Sampah Sekar 18 Poka, yang juga difungsikan sebagai lokasi pengumpulan Drop Box untuk limbah B3 domestik.
Fasilitas serupa telah disiapkan di sekolah, kantor kecamatan, dan kantor pemerintahan untuk memperluas jangkauan dan memastikan pengelolaan limbah berbahaya lebih terkontrol.
Sudirman menekankan keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat.
“Kalau setiap rumah tangga mau memilah dan mengirim sampah anorganiknya, volume sampah yang masuk ke TPA bisa berkurang signifikan. Target kami adalah membangun kesadaran bahwa sampah memiliki nilai, bukan sekadar limbah,” jelasnya.
Program Bank Sampah Balikpapan menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga tentang pemberdayaan masyarakat.
“Dengan melibatkan warga langsung dalam proses pengumpulan, pemilahan, dan pemanfaatan sampah sekaligus mendorong terbentuknya ekonomi berbasis sumber daya lokal yang berkelanjutan,” tegasnya. (*)















Discussion about this post