TARAKAN, Fokusborneo.com – 22 Februari 2022, saya pernah terbang dari Bandara RA Bessing Malinau ke Tarakan. Peteng itu, saya baru selesai dalam penerbangan 3.5 jam dari Pontianak ke Malinau pakai pesawat Cessna Caravan PK SNK.
Di Malinau saya sudah ditunggu seorang Capten senior. Pakai kemeja Hawai, celana pendek dan sepatu gunung. Rambutnya beruban. Tampilannya bukan seperti pilot yang necis dan rapi. Tapi lebih mirip anak band.
Saya kenalan. Namanya Capten Egon Erwan. Selain pilot dia merangkap instruktur. Pesawat tunggangannya adalah Pilatus Poter. Tapi instruktur juga di Caravan.
Ia cerita. Dulu lama bekerja di perkebunan di Australia. Tugasnya menyemprot hama dan pupuk pakai Pilatus. Itu dilakoninya bertahun-tahun. Sampai akhirnya kembali ke Indonesia dan bergabung di Smart Air.
Tadi malam dalam perjalanan dari Serang ke Tangerang betapa kagetnya saya membaca berita di detik.com. Pesawat Smart Air ditembaki saat mendarat di Bandara Korowai, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.
Saya gak nyangka, dua pilot tewas itu salah satunya adalah Capten Egon. Sedih. Walau ngobrol tidak lama, tapi darinya banyak merubah persepsi saya soal pilot dan dunia penerbangan perintis.
Resiko menerbangkan pesawat di wilayah konflik seperti Papua tantangannya bukan cuaca. Atau bandara ekstrim. Tapi juga resiko peluru yang ditembakkan oleh ekstrimis.
Peluru itu akhirnya mengakhiri hidup Om Egon. Orang yang banyak berjasa mengantarkan saudara-saudara yang mungkin keluarga dari para penembak itu.
Tapi begitulah resikonya menjadi pilot pesawat perintis di Papua. Ingatan saya kembali ke 4 tahun lalu. Om Egon cerita dengan santai. Ia salah satu pilot senior yang menjadi rujukan juniornya. Sarat pengalaman. Dan menerbangkan pesawat dengan ringan.
Om Egon selamat jalan ya. Kau akhirnya touch down di tanah yang kau cintai bernama Papua.(**)















Discussion about this post