TARAKAN, Fokusborneo.com – Penanganan HIV/AIDS di Kalimantan Utara (Kaltara) dinilai perlu keluar dari cara-cara konvensional.
Anggota Komisi IV DPRD Kaltara, Vamelia, menegaskan Pemprov Kaltara harus mulai melirik keberhasilan daerah tetangga, khususnya Kota Balikpapan, dalam menekan angka kasus melalui keterlibatan aktif komunitas lokal.
Dalam rapat koordinasi penyusunan regulasi pencegahan HIV/AIDS baru-baru ini, Vamelia menyoroti kunci efektivitas penanganan bukan hanya terletak di tangan birokrasi, melainkan pada kolaborasi akar rumput.
Vamelia memaparkan bagaimana Balikpapan berhasil membangun ekosistem deteksi dini yang melibatkan anak muda melalui Generasi Berencana (Genre) dan Forum Anak Daerah (FAD).
”Di Balikpapan, pemuda bukan sekadar objek edukasi, tapi garda depan. Mereka diberikan apresiasi nyata. Ada insentif sebesar Rp300 ribu bagi mereka yang berhasil menemukan dan melaporkan potensi kasus baru,” ungkap Vamelia.
Menurutnya, model apresiasi ini sangat efektif untuk memotivasi komunitas agar lebih proaktif melakukan pelacakan (tracing) di lapangan, sesuatu yang sering kali sulit dijangkau oleh petugas kesehatan secara langsung.
Selain soal teknis deteksi, Vamelia menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam memperlakukan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).
Ia berharap Kaltara meniru pendekatan humanis yang diterapkan di Balikpapan, di mana pengawasan kesehatan berjalan beriringan dengan dukungan moral. Bukan memberikan stigma negatif kepada penderita.
Langkah perlu dilakukan, memberikan pendampingan intensif dan pemantauan kesehatan berkala. Serta memastikan ODHA tetap memiliki kualitas hidup yang baik dan tidak merasa terkucilkan.
”Pendekatannya harus merangkul. Kita butuh sistem di mana ODHA didampingi secara berkelanjutan, bukan dihakimi. Pola pikir inilah yang harus masuk dalam regulasi baru kita di Kaltara,” tegasnya.(*/mt)















Discussion about this post