TANJUNG SELOR, Fokusborneo.com – Program “Gentengisasi” yang tengah menjadi perbincangan hangat di Kalimantan Utara (Kaltara) mendapat respons positif dari Ketua DPRD Kaltara, Achmad Djufrie.
Menurutnya, penggunaan genteng bukanlah tren baru, melainkan sebuah tradisi lama yang pernah berjaya di Bumi Benuanta.
Achmad Djufrie mengenang bagaimana di masa lalu, pemandangan rumah warga dengan atap genteng dan sirap kayu ulin adalah hal yang lumrah. Namun, seiring langkanya kayu ulin dan sulitnya akses mendapatkan genteng berkualitas, masyarakat pun perlahan berpindah ke material seng yang dinilai lebih praktis.
”Sejak kecil saya sudah terbiasa melihat rumah beratapkan genteng. Jadi, gerakan ini sebenarnya adalah mengembalikan apa yang dulu pernah ada. Dulu kita pakai sirap dari kayu ulin, tapi karena ulin semakin langka dan genteng harus didatangkan jauh dari Surabaya, akhirnya orang-orang memilih seng karena faktor kecepatan pasang,” ungkap Djufrie, Jumat (13/2/26).
Meski menyatakan dukungannya, politisi ini memberikan catatan kritis. Ia menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada keberlangsungan ekonomi para pengrajin lokal.
Politisi Gerindra itu tidak ingin para pengrajin semangat memproduksi namun kesulitan dalam menjual produknya.
Untuk menyiasati hal tersebut, rencananya distribusi dan pemasaran akan dikawal melalui Koperasi Merah Putih. Langkah ini diambil agar rantai pasokan lebih terorganisir dan terjamin.
”Prinsipnya kita mendukung penuh selama pasarnya tersedia. Kita harus pastikan ada pembelinya. Jangan sampai pengrajin kita sudah berlelah-lelah membuat, tapi produknya malah tidak terserap di pasar. Melalui Koperasi Merah Putih, kita harap sistem penyalurannya bisa lebih tertata,” tegasnya.
Tak hanya soal pasar, Djufrie juga mendesak pemerintah maupun pihak koperasi untuk mendatangkan tenaga ahli. Tujuannya agar genteng hasil produksi lokal Kaltara memiliki standar kualitas yang tinggi, awet, dan estetis.
”Kita butuh tenaga ahli untuk mendampingi proses produksi. Kita ingin genteng yang dihasilkan nanti benar-benar bermutu, kuat secara fisik, dan rapi secara visual. Istilahnya, dibanting pun harus tetap kokoh,” tambah Djufrie.
Ia juga mengaitkan program ini dengan visi kebersihan lingkungan yang diinstruksikan Presiden, guna mempercantik estetika daerah demi menarik kunjungan wisatawan ke Kaltara.(*/mt)















Discussion about this post