BALIKPAPAN, Fokusborneo.com – Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada Juni 2026 tercatat mengalami peningkatan. Meski demikian, inflasi di kedua wilayah tersebut dinilai masih terkendali dan berada dalam rentang sasaran nasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan kondisi ini didukung oleh kecukupan pasokan serta konsistensi upaya pengendalian inflasi melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
“Secara umum, inflasi di Balikpapan dan PPU masih terjaga. Kami meyakini ke depan tetap berada dalam kisaran target nasional 2,5 persen plus minus 1 persen,” ujar Robi.
Pada Juni 2026, Balikpapan mengalami inflasi sebesar 0,86 persen secara bulanan (mtm), sementara PPU sebesar 0,39 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat 2,80 persen (yoy) dan PPU sebesar 2,96 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,34 persen (yoy).
Kenaikan inflasi di kedua wilayah tersebut terutama dipicu oleh kelompok transportasi dan energi, seiring penyesuaian harga BBM nonsubsidi serta dampak lanjutan kebijakan fuel surcharge penerbangan.
Di Balikpapan, kelompok transportasi menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil 0,68 persen. Sejumlah komoditas yang dominan mendorong inflasi antara lain bensin, angkutan udara, bawang merah, jagung manis, dan beras. Kenaikan harga bensin dipengaruhi penyesuaian harga Pertamax, sementara tarif angkutan udara terdorong tingginya biaya avtur.
Selain itu, kenaikan harga komoditas pangan seperti bawang merah dan jagung manis dipicu terbatasnya pasokan dari daerah sentra akibat faktor cuaca, serta meningkatnya biaya distribusi. Sementara harga beras mengalami kenaikan seiring terbatasnya pasokan dan naiknya biaya logistik.
Di sisi lain, tekanan inflasi di Balikpapan tertahan oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga, seperti cabai rawit, semangka, bahan bakar rumah tangga, tas sekolah, dan tomat. Penurunan ini didorong oleh meningkatnya pasokan saat masa panen serta program stabilisasi harga melalui operasi pasar.
Sementara itu, di Kabupaten PPU, inflasi juga didominasi kelompok transportasi dengan andil 0,22 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi antara lain bensin, bawang merah, cabai rawit, minyak goreng, dan jagung manis.
Adapun komoditas yang menahan inflasi di PPU antara lain daging ayam ras, semangka, ikan tongkol, tomat, dan sawi hijau, seiring meningkatnya pasokan dari produksi lokal maupun distribusi dari luar daerah.
Robi menambahkan, berbagai program pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi TPID, di antaranya melalui gerakan pangan murah, operasi pasar, hingga penguatan kerja sama antar daerah dalam menjaga pasokan komoditas strategis.
Namun demikian, ke depan terdapat sejumlah risiko yang perlu diantisipasi, seperti potensi musim kemarau dan dampak El Nino yang dapat memengaruhi produksi pangan, serta meningkatnya permintaan seiring aktivitas ekonomi.
“Untuk itu, kami terus mendorong langkah strategis dan kolaborasi lintas sektor agar stabilitas harga tetap terjaga,” jelasnya.
Bank Indonesia bersama pemerintah daerah juga akan terus mengoptimalkan program pengendalian inflasi, termasuk melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS), guna menjaga inflasi tetap stabil dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.(**)












Discussion about this post