MALINAU, Fokusborneo.com – Di tengah pekatnya aroma tanah basah dan teriknya mentari yang membakar pekarangan kelapa sawit, keringat para petani di Kabupaten Malinau kerap kali mengalir tanpa kepastian harga yang adil.
Di balik suburnya tandan buah segar yang mereka panen saban hari, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan bertahan hidup dalam rantai industri yang tak jarang menempatkan mereka di posisi paling bawah. Namun, secercah asa baru kini mulai membumbung tinggi.
Melalui Musyawarah Daerah (Musda) III Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kabupaten Malinau yang digelar di Hotel Mahkota, Minggu (16/8/26), rombongan pejuang ekonomi tapal batas ini berkumpul memadukan langkah.
Sebanyak puluhan petani hadir dengan raut wajah penuh harap, membawa keteguhan hati untuk mengubah nasib dari sekadar buruh di tanah sendiri menjadi bagian dari ekosistem perkebunan yang berdaya dan bermartabat.
Ketua DPW APKASINDO Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Muh. Khoirudin, S.HI., secara langsung memberikan suntikan semangat di hadapan puluhan peserta yang memadati ruangan.
Dalam sambutannya yang menggugah, ia mengingatkan pentingnya persatuan petani agar mampu berdiri sejajar dengan para pelaku industri sawit nasional.
”Musda ini adalah sebagai sarana semakin mengokohkan petani sawit agar semakin berdaya dan setara. Kita tidak boleh lagi biarkan petani berjalan sendiri-sendiri menghadapi beratnya tantangan zaman. Hari ini kita tegaskan, petani sawit Malinau harus naik kelas dan berhak menikmati hasil jerih payahnya secara adil,” tegas Muh. Khoirudin.
Momentum bersejarah tersebut mencapai puncaknya saat penetapan kepengurusan baru untuk masa bakti mendatang.
Melalui proses mufakat yang penuh kekeluargaan, Pdt. Robinson secara resmi terpilih untuk memimpin DPD APKASINDO Kabupaten Malinau.
Sebagai nahkoda baru, ia diharapkan mampu merangkul jemari para petani yang mulai letih, merapatkan barisan yang sempat merenggang, serta secara konsisten menyuarakan hak-hak petani di meja pemangku kebijakan.
Hadirnya kepengurusan anyar ini diyakini menjadi titik balik pembangunan sektor perkebunan rakyat di Malinau.
Lebih dari sekadar agenda organisasi berkala, Musda III ini menjadi bukti nyata bahwa semangat para petani sawit Malinau untuk bangkit, sejahtera, dan dihargai di negerinya sendiri tak akan pernah padam.(**)















Discussion about this post