TANJUNG SELOR, Fokusborneo.com – Penguatan ketahanan pangan didorong dimulai dari desa dengan mengembangkan potensi produksi sesuai kondisi masing-masing wilayah. Ketersediaan pangan di tingkat desa dinilai dapat menjadi fondasi pemenuhan kebutuhan masyarakat hingga memberi dampak lebih luas.
Komandan Kodim (Dandim) 0903/Bulungan Kolonel Inf Dhuwi Hendrajaja, S.Sos., M.I.Pol. mengatakan, setiap desa memiliki potensi berbeda yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Sektor yang dikembangkan dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah, seperti persawahan, perkebunan, peternakan maupun perikanan.
“Harapannya tiap-tiap desa itu memiliki ketahanan pangan berupa berbagai macam jenis. Seperti tadi saya utarakan, ada perkebunan, ada persawahan, ada peternakan, ada perikanan,” kata Dhuwi, Jumat (28/8/2026.
Menurutnya, berbagai sektor tersebut akan lebih optimal jika dikembangkan secara terpadu dalam satu kawasan. Karena itu, desa didorong mengembangkan integrated farming system (IFS) atau sistem pertanian terintegrasi.
Konsep tersebut menggabungkan beberapa sektor produksi pangan dalam satu kawasan sehingga kegiatan peternakan, perkebunan dan perikanan dapat berjalan secara terpadu. Model ini juga diarahkan agar kebutuhan pangan masyarakat tidak hanya bergantung pada satu jenis produksi.
“Syukur-syukur masing-masing desa itu mempunyai satu kawasan yang kita kenal namanya IFS, jadi sistem pertanian terintegrasi. Ada peternakannya, ada perkebunannya, ada perikanannya, sehingga kebutuhan pangan di desa tersebut dapat tercukupi, terpenuhi,” ujarnya.
Dhuwi menilai desa perlu ditempatkan sebagai basis pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Ketika produksi pangan mampu mencukupi kebutuhan di tingkat desa, hasilnya dapat berkembang dan menopang kebutuhan wilayah yang lebih luas.
“Dengan desa dapat mencukupi kebutuhan pangan masyarakat, itu otomatis akan meningkat ke tingkat kabupaten, bahkan ke tingkat skala nasional,” jelasnya.
Pengembangan produksi lokal juga berkaitan dengan kondisi pasokan di pasar. Ketersediaan pangan dari wilayah sendiri dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga pasokan tidak sepenuhnya bergantung dari luar wilayah.
“Kalau kebutuhan pangan di desa tersebut dapat tercukupi, terpenuhi, sehingga ini akan menekan harga pasar yang ada di wilayah itu sendiri,” katanya.
Dhuwi mengatakan, pola tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar potensi pangan di masing-masing desa dapat dikembangkan secara maksimal. Pengembangan sesuai karakter wilayah dinilai menjadi bagian penting dalam membangun ketersediaan pangan secara berkelanjutan.
“Harapannya tiap-tiap desa itu memiliki ketahanan pangan berupa berbagai macam jenis,” pungkasnya.(hr)













Discussion about this post