TANJUNG SELOR, Fokusborneo.com – Bupati Bulungan Syarwani membuka Bulungan Open Turnamen Menyumpit di Kebun Raya Bundayati, Tanjung Selor, Selasa (20/10/2026). Digelar selama dua hari, 20–21 Oktober 2026, turnamen ini menjadi upaya merawat tradisi menyumpit sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda.
Lebih dari 100 peserta dari Kalimantan Timur (Kaltim), termasuk Samarinda dan Berau, serta lima kabupaten/kota di Kalimantan Utara (Kaltara) turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Jumlah peserta tahun ini meningkat dibandingkan penyelenggaraan 2025 yang masih berskala lokal di Kabupaten Bulungan.
Syarwani mengatakan, menyumpit bukan sekadar perlombaan, melainkan tradisi masyarakat Dayak yang telah diwariskan secara turun-temurun di Pulau Kalimantan.
“Ini bukan hanya sekadar lomba, tetapi kita ingin memperlihatkan secara langsung bahwa menyumpit merupakan tradisi masyarakat, khususnya masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan, yang sejak dahulu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” kata Syarwani.
Menurutnya, penyelenggaraan turnamen menjadi salah satu cara memberikan apresiasi sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi tersebut agar tetap dikenal dan diminati generasi muda.
Melihat antusiasme peserta, Syarwani berharap Bulungan Open Turnamen Menyumpit dapat berkembang menjadi ajang yang lebih besar. Ia bahkan menargetkan jumlah peserta bisa mencapai 1.000 orang pada penyelenggaraan mendatang.
“Mudah-mudahan kita bisa menembus seribu peserta yang nanti bisa kita buka secara lebih luas,” ujarnya.
Syarwani mengakui, upaya tersebut membutuhkan persiapan, sosialisasi, dan publikasi yang lebih kuat. Pemerintah daerah berharap turnamen pada 2027 dapat melibatkan lebih banyak peserta, terutama generasi muda dari berbagai daerah di Kalimantan.
Pelestarian budaya, lanjutnya, juga dilakukan melalui pendidikan. Pemerintah Kabupaten Bulungan telah mendorong satuan pendidikan, mulai dari TK, PAUD hingga sekolah dasar, untuk mengenalkan muatan lokal dalam proses belajar mengajar.
Bahasa Bulungan, Tidung, dan Dayak menjadi bagian dari muatan lokal yang didorong untuk diperkenalkan kepada peserta didik. Pelestarian budaya juga berlangsung melalui kegiatan seni di sekolah, termasuk tari-tarian tradisional yang ditampilkan dalam berbagai acara.
“Kita ingin nilai-nilai budaya ini ditanamkan sejak usia dini, sehingga anak-anak kita mengenal dan memiliki kepedulian untuk menjaga warisan budaya yang ada di Kabupaten Bulungan,” jelasnya.
Selain menjaga tradisi, Syarwani melihat kegiatan yang menghadirkan peserta dari luar daerah juga berpotensi menggerakkan perekonomian masyarakat. Sektor perhotelan, kuliner, dan UMKM dapat merasakan manfaat dari meningkatnya aktivitas pengunjung selama kegiatan berlangsung.
“Ketika banyak orang berkumpul, saya yakin dampaknya bisa dirasakan sektor usaha lainnya, terutama UMKM. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu kita kemas lebih menarik dengan tetap memasukkan konten-konten lokal,” ungkapnya.
Syarwani berharap Turnamen Menyumpit dapat menjadi agenda rutin tahunan yang terus dikembangkan dengan memadukan olahraga tradisional dan pertunjukan seni budaya. Melalui kegiatan ini, Bulungan Open Turnamen Menyumpit diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana melestarikan dan memperkenalkan warisan budaya Kalimantan kepada generasi muda sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.(*/hr)















Discussion about this post