Menu

Mode Gelap
Capaian WTP Harus Berkorelasi dengan Pembangunan Daerah Gubernur Bantu Pembangunan Masjid Al Ikhlas Polairud Polda Kaltara Gubernur Santuni Pemilik Taman Pendidikan Alquran (TPA) Pantai Amal yang Terbakar Percepat Herd Immunity, Kodim Tarakan Gelar Serbuan Vaksin Untuk Pelajar Sinergikan Pemerintah Pusat dan Daerah, Pemprov Gelar Rakor GWPP

Daerah · 27 Agu 2021 21:07 WITA ·

Usia 52 Tahun Tak Menyurutkan Langkah Bang Ben Jadi Pemandu Gunung Rian


Benyamin (Bang Ben), Pemandu pendaki Gunung Rian Kabupaten Tana Tidung Perbesar

Benyamin (Bang Ben), Pemandu pendaki Gunung Rian Kabupaten Tana Tidung

TANA TIDUNG – Fisik tergolong renta, Benyamin atau sapaan akrabnya Bang Ben tetap menolak disebut tua. Meski telah berusia 52 tahun lelaki yang juga sebagai ketua BPD Tideng Pale ini masih kuat naik turun Gunung Rian, Kabupaten Tana Tidung.

Saat ditemui media fokusborneo.com, Bang Ben menceritakan jadi pemandu pendakian Gunung Ria dilakoninya selain hobi juga sebagai sarana olah raga agar tubuh tetap sehat.

Bang Ben, mengatakan menaklukkan Gunung Rian adalah impian sejak lama, dan akhirnya mengantarkan dia sebagai seorang pemandu dan dipercaya para penjelajah gunung dari berbagai kelas.

Awalnya, pada tahun 2013 Bang Ben memulai petualangannya mendaki di Gunung Rian, meski banyak yang menyangsikan kemampuannya karena tidak dibekali pengalaman. Namun Ia tak menyerah, bersama orang lokal Bang Ben perlahan belajar menjajal rute dan akhirnya sukses.

“Ya belajar menghafal rute dulu. Saya beri tanda setiap perjalanan, dan saat turun gunung berusaha mengingat tanda itu,” terangnya, Jumat (27/8/2021)

width"450"
width"425"

Dari coba-coba itu, akhirnya Ia dipercaya dan mendapatkan tamu naik gunung Rian, pernah sekali nyasar karena salah rute, meski begitu Ia tidak panik hanya bilang maaf kepada pendaki karena terlalu asyik mengobrol.

Bang Ben tidak memungkiri, mendaki membuat kesehatannya terjaga. Hal ini pula yang jadi alasannya tidak melepas pekerjaannya sebagai pemandu. Bicara gaya hidup, bang Ben mengaku perokok berat, lebih dari dua bungkus rokok bisa dia habiskan sehari.

Dia tidak bisa berhenti dari kebiasaan merokok. Meski begitu, ayah tiga anak bakal empat itu mengaku merasa seperti biasa saja tidak pernah merasakan masalah dengan paru-paru.

Bukan cuma itu, otot kaki, lutut, sampai persendian yang lain tak masalah. Tidak seperti orang tua kebanyakan yang mulai bermasalah di persendian akibat produksi minyak sendi mulai berkurang. Bang Ben tetap energik.

Pendakian di Gunung Rian hampir setiap hari dilakoni. Sembari mengangkut barang dengan berat antara 7-12 kg sampai puncak bukan penghalang langkahnya untuk terus berjalan.

“Mungkin karena banyak bergerak, jadi saya tetap sehat, mendaki ini kan olahraga. Hampir setiap hari saya mendaki. Hitung-hitung terapi paru-paru biar tetap sehat. Saya perokok berat, lho, tapi masih kuat, mudah-mudahan tetap kuat. Untuk sekarang rehat dulu karena pandemi, jadi jarang ada tamu yang naik (gunung),” ungkapnya kepada fokusborneo.com

Bang Ben menuturkan, kecintaanya sebagai pemandu bukan karena finansial. Awal jadi pemandu (2013) Ia dibayar Rp 500 ribu sampai puncak angka ini sudah cukup tinggi, tapi lebih dari itu Bang Ben sendiri sangat senang berpetualang dan ada rasa kepuasan sendiri ketika sampai puncak.

Bukan cuma alasan finansial, bang Ben mengaku senang berpetualang. Mendapatkan ketenangan di atas puncak sambil menikmati matahari terbit menjadi motivasinya.

Momen mengharukan sempat dia rasakan saat berada di puncak. “Saya sempat menangis kalau ada di atas (puncak), rasanya indah sekali. Selalu saya ucapkan syukur kepada Tuhan, saya diberikan kebahagiaan selama hidup, seperti tidak percaya dapat kesempatan itu dari atas walaupun saya sudah tua. Betul itu. Sampai saya menangis, teriak juga pernah saking terharunya,” kenangnya.

Pengalaman selama mendaki, Bang Ben mengaku udara dipuncak Rian sangat dingin, ada juga beberapa pendaki hampir terpeleset karena tidak mengikuti arahan, sementara kaki juga mulai lelah.

Bang Ben mulai dapat perhatian di kalangan komunitas pecinta alam. Namanya mulai disejajarkan dengan pemandu profesional setelah sempat mengawal pendaki yang rupanya bekerja di perusahaan penerbitan.

Pendakian saat ini tak seramai dulu, dan jumlah pemandu juga makin banyak. Ia menambahkan selama pandemi Covid-19 ini sepi pendaki. (her/Iik)

Print Friendly, PDF & Email
Artikel ini telah dibaca 454 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Anggota Kompi Air Denjasaang VI-44-13 Bekangdam VI/Mlw Berhasil Evakuasi Korban Kapal Klotok Yang Karam

15 Agustus 2022 - 22:50 WITA

Gubernur Kukuhkan 40 Anggota Pasukan Pengibar Bendera

15 Agustus 2022 - 22:42 WITA

Progress KIHI Signifikan, Menko Marves Bakal Kembali Kunjungi Kaltara

15 Agustus 2022 - 21:13 WITA

Jadi Lokasi Tanam Mangrove, Wabup Hendrik: Semoga Ekosistem di Tana Tidung Tetap Terjaga

15 Agustus 2022 - 18:12 WITA

Tahun ini UBT Terima 2.137 Mahasiswa Baru

15 Agustus 2022 - 15:08 WITA

Wabub Hendrik Serahkan Bendera Merah Putih di HUT Pramuka Ke-61

15 Agustus 2022 - 14:55 WITA

Trending di Advetorial
error: Alert: Content is protected !!