TARAKAN, Fokusborneo.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan mengungkap fakta mencengangkan terkait peta penyebaran HIV/AIDS di Bumi Paguntaka.
Dari total 1.010 kasus yang terakumulasi hingga tahun 2025, kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) tercatat sebagai salah satu kontributor atau penyumbang terbesar kasus baru.
Hal ini disampaikan Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Tarakan, Rinny Faulina, SKM., M.Kes, dalam rapat kunjungan kerja bersama Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Kamis (22/1/26)
Rinny menjelaskan dari berbagai kelompok populasi kunci yang dipantau, perilaku seks sesama jenis pada laki-laki menunjukkan angka yang paling menonjol dibandingkan kelompok lainnya seperti Wanita Pekerja Seks (WPS) atau pengguna narkoba suntik.
”Berdasarkan penemuan kasus menurut kelompok risiko, mayoritas berasal dari LSL. Pada tahun 2025 saja, terdapat 31 kasus baru yang terdeteksi dari kelompok ini,” ungkap Rinny.
Tingginya angka pada kelompok LSL ini, menjadi perhatian serius karena sifat komunikasinya yang tertutup namun memiliki jaringan yang luas. Hal ini diperparah dengan adanya pergeseran lokasi berkumpulnya kelompok berisiko ini.
Dalam laporannya, Rinny menyebutkan penyebaran tidak lagi hanya terjadi di tempat hiburan malam konvensional, panti pijat, cafe dan salon. Tempat kebugaran atau Gym kini menjadi salah satu hotspot atau titik pantau karena diduga menjadi lokasi sekumpulan kelompok LSL.
”Ada salah satu tempat (Gym) yang menjadi tempat berkumpulnya kelompok LSL ini. Ini yang sedang kami beri garis bawah untuk dilakukan penjangkauan lebih dalam,” tegasnya.
Selain lokasi fisik, penggunaan aplikasi daring juga memudahkan pertemuan kelompok risiko ini, sehingga petugas lapangan harus bekerja lebih ekstra untuk melakukan pelacakan dan edukasi.
Meski menjadi penyumbang terbesar, kelompok LSL sulit dijangkau sepenuhnya karena masalah stigma. Banyak dari mereka yang belum siap membuka status kesehatannya, bahkan kepada keluarga sendiri.
”Hambatan utama kami adalah saat mereka ditemukan reaktif, tidak semuanya bersedia langsung menjalani pengobatan ARV. Ada yang hilang kontak karena belum siap menerima kenyataan atau takut statusnya diketahui orang terdekat,” tambah Rinny.
Dinkes Tarakan pun telah menyiapkan tenaga konselor dan pendamping sebaya dari komunitas untuk melakukan pendekatan persuasif.
Rinny menegaskan pemeriksaan HIV saat ini sudah tersedia di seluruh Puskesmas dan Rumah Sakit di Tarakan untuk memudahkan akses bagi siapa saja yang merasa berisiko.
Menyikapi data tersebut, Dinkes Tarakan terus menggencarkan strategi “Triple Eliminasi” dan skrining pada populasi kunci.
Kerja sama dengan komunitas seperti Mahakam Plus, KDS Spirit Borneo dan Perhimpunan Konselor HIV juga diperkuat untuk mendampingi penderita agar mau menjalani pengobatan secara rutin demi menekan jumlah virus dalam tubuh sehingga risiko penularan ke orang lain dapat berkurang.(*/mt)
















Discussion about this post