TARAKAN, Fokusborneo.com – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tarakan terus menunjukkan progres signifikan.
Hingga saat ini, sebanyak 21 unit dapur telah beroperasional secara penuh untuk melayani ribuan penerima manfaat, mulai dari anak sekolah hingga kelompok rentan lainnya.
Koordinator Wilayah (Korwil) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Tarakan, Dewi, mengungkapkan jangkauan layanan kini telah diperluas. Tidak hanya menyasar siswa sekolah, tetapi juga menyentuh guru, balita, ibu hamil, hingga ibu menyusui.
Dewi menjelaskan setiap dapur saat ini rata-rata melayani sekitar 1.000 penerima manfaat. Namun, angka ini dipastikan akan terus berkembang seiring dengan penguatan infrastruktur dapur.
”Kapasitas dapur saat ini maksimal kurang lebih seribu. Jika memang dapur cukup mampu dan kapasitasnya bisa ditingkatkan, jumlah penerima akan ditambah. Saat ini kami juga masih menunggu tenaga ahli gizi tambahan untuk beberapa dapur agar operasional lebih maksimal,” ujar Dewi.
Terkait distribusi, setiap dapur memiliki wilayah kerja yang mencakup beberapa sekolah di sekitarnya. Sebagai contoh, unit dapur di area belakang Caskara melayani SD Utama dan SD 014, dengan jumlah porsi yang disesuaikan dengan data siswa dan guru di sekolah tersebut.
Berdasarkan data terbaru, total penerima manfaat program MBG di Kota Tarakan telah mencapai angka 46.000 jiwa. Angka ini mencakup siswa sekolah dari PAUD hingga SMA, tenaga pendidik dan kependudukan, balita, serta ibu hamil dan ibu menyusui.
”Secara keseluruhan ada sekitar 46 ribuan penerima di Tarakan. Kami memastikan setiap menu yang disajikan memiliki kualitas baik dan hitungan gizinya sesuai, karena ada ahli gizi yang mengawasi di setiap dapur,” tambah Dewi.
Menanggapi layanan di wilayah pesisir seperti Mamburungan yang belum sepenuhnya tercover, Dewi menyebutkan saat ini dapur di wilayah tersebut masih dalam tahap persiapan. Target ke depan, jumlah dapur di Tarakan diharapkan bisa mencapai lebih dari 25 unit.
“Di daerah satu saja targetnya bisa di atas 25 dapur, tapi data ini terus di-update. Kami masih mengumpulkan data penerima manfaat untuk menentukan jumlah ideal dapur yang dibutuhkan,” jelasnya.
Terkait teknis pelaksanaan program di bulan suci Ramadan, Dewi mengaku pihaknya masih menunggu arahan resmi dari pusat. Hingga saat ini, Petunjuk Teknis (Juknis) khusus untuk bulan puasa belum diterbitkan.
”Untuk bulan puasa, kami belum ada arahan lebih lanjut. Kami masih menunggu Juknis resmi untuk menyesuaikan bagaimana teknis pembagiannya nanti,” tutup Dewi.(*/mt)















Discussion about this post