NUNUKAN – Dalam rangka mendorong perluasan transaksi Non Tunai dan akselerasi penggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di wilayah Kabupaten Nunukan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) bekerjasama dengan Badan Penerimaan Daerah (BAPENDA) dan Dinas Perdagangan Kabupaten Nunukan menyelenggarakan kegiatan “Sosialisasi QRIS, Ciri-Ciri Keaslian Uang Rupiah (CIKUR) dan Bayar Pajak Tidak Ribet Hemat Biaya dan Akuntabel (Bapak Tiri Hebat)â€, dari tanggal 28 – 29 Juni 2021 bertempat di Ruang Serbaguna Hotel Laura, Kabupaten Nunukan.
Kegiatan yang dibuka Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid, dihadiri Pimpinan Perbankan dan Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Nunukan.
Pimpinan KPwBI Provinsi Kaltara, Yufrizal dalam sambutannya menyampaikan bahwa statista memprediksi jumlah transaksi digital di Indonesia diprediksi mencapai Rp 642 triliun di akhir tahun 2021, meningkat sebesar 28 persen dari transaksi digital di tahun 2020. Selain itu berdasarkan data dari Bank Dunia, sebanyak 51 persen penduduk dewasa di Indonesia belum terjangkau akses perbankan.
Hal ini menjadi peluang besar bagi setiap pihak untuk terus meningkatkan inklusivitas akses kepada layanan keuangan dan potensi transaksi digital di Indonesia mengingat akses digital bersifat lebih inklusif ke segmen masyarakat manapun.

“Bank Indonesia telah dan akan terus memainkan beberapa peran untuk mendukung digitalisasi di Indonesia, yang pada kesempatan ini lebih berfokus pada implementasi QRIS untuk digitalisasi transaksi, mempertimbangkan inovasi kanal pembayaran yang aman dan sehat ditengah pandemi COVID-19 dengan “CEMUMUAH†(Cepat, Mudah, Murah, Aman, dan Handal),” tutur Yufrizal.
Selain itu juga disampaikan bahwa hingga saat ini telah terdapat 14,6 ribu merchant di Kaltara menggunakan QRIS untuk memfasilitasi pembayaran, dengan kurang lebih 2.759 merchant atau 17 persennya berada di Kabupaten Nunukan.
“Kabupaten Nunukan telah melakukan beberapa upaya untuk menyambut fenomena digitalisasi yang sedang berlangsung. Kami merangkum setidaknya ada empat hal yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Nunukan, yaitu pengaplikasian QRIS untuk retribusi parkir di RSUD, pengembangan Aplikasi Bayar Pajak secara non tunai yang dikembangkan oleh Bapenda Kabupaten Nunukan dengan nama Bapak Tiri Hebat atau Bayar Pajak Tidak Ribet, Hembat Biaya, Akuntabel dan transparan, penggunaan e-wallet untuk bayar PBB, dan pembahasan pembentukan TP2DD,” ujar Yufrizal.
Mengakhiri sambutannya Yufrizal, menyampaikan dalam kegiatan ini akan dilakukan juga sosialisasi mengenai Cinta, Bangga dan Paham Rupiah, mengingat Kabupaten Nunukan yang terletak pada posisi strategis di perbatasan dengan Malaysia, sehingga perlu dilakukan penguatan pemenuhan uang Rupiah sebagai mana amanat undang-undang dalam kewajiban penggunaan uang Rupiah di wilayah NKRI untuk menjaga kedaulatannya.

Sementara itu, Bupati Nunukan dalam sambutannya mengatakan QRIS ini masih belum banyak diketahui masyarakat awam. Tetapi sebagian masyarakat, telah menggunakannya dikarenakan tuntutan perkembangan teknologi. Kedepan tentunya metode pembayaran dengan QR Code akan semakin berkembang seiring semakin majunya teknologi yang memudahkan masyarakat.
“Saya percaya dengan adanya QRIS, dapat menjadi petunjuk arah dan standar pengembangan metode pembayaran sebagai cara pembayaran yang aman dan efesien,” kata Laura.
Menanggapi kegiatan sosialisasi CIKUR, Laura menyampaikan bahwa hal ini juga penting untuk diketahui masyarakat, khususnya masyarakat Kabupaten Nunukan, karena ketidaktahuan masyarakat atas ciri uang asli atau palsu bisa merugikan masyarakat itu sendiri. Ia berharap dalam sosialiasi ini, tidak hanya diperuntukkan bagi instansi penerima pajak dan retribusi saja, namun skalanya dapat lebih diperlebar sehingga bisa dijangkau oleh seluruh masyarakat.
Selain QRIS dan CIKUR, Laura juga mengapresiasi sosialisasi aplikasi (Bapak Tiri Hebat) yang digagas oleh salah satu kepala OPD Dinas Pendapatan Daerah. “Patut kita dukung, karena beberapa tahun terakhir ini pemerintah Nunukan terus berupaya untuk meningkatkan pendapatan asli daerah yang bersumber dari pajak dan retribusi,” beber Laura.
Menurutnya, hadirnya aplikasi Bapak Tiri Hebat menjadi salah satu dari sekian upaya untuk meraih perolehan pendapatan. “Saya bangga atas inovasi dan gagasan yang telah dibuat karena bisa menyesuaikan perkembangan teknologi,” ucap Laura mengakhiri sambutannya.
Adapun acara ini dirangkai juga dengan penyerahan secara simbolis QRIS oleh Bupati Nunukan dan Kepala KPwBI Provinsi Kaltara Yufrizal kepada Perwakilan Penyelenggara Sistem Pembayaran (PJSP) di Kabupaten Nunukan. Nasabah masing-masing PJSP, juga mendapatkan merchant dan berikut donasi bersama melalui scan QRIS rekening Baznas Nunukan. Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari ini, terdiri dari 3 sesi dihadiri oleh perwakilan OPD Kabupaten Nunukan, pengusaha besar dan pedagang pasar Yamaker.(**)
















Discussion about this post