TARAKAN, Fokusborneo.com – “Pendidikan adalah satu-satunya cara kita lolos dari penjara kemiskinan dan memulai petualangan baruâ€. Itu merupakan petikan motivasi saat jurnalis Fokus Borneo memulai wawancara dengan Muhamad Nour, putera asli Tarakan, yang merupakan seorang pegiat masyarakat sipil dan pekerja profesional yang kini menetap di ibukota negara, Jakarta.
Si Amad biasa dipanggil di Tarakan, telah berkarir di berbagai organisasi internasional diantaranya CARE International, Tifa Foundation, proyek lembaga donor internasional, termasuk di badan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa), UNICEF dan ILO.
Tidak banyak sebenarnya orang Tarakan atau Kalimantan Utara yang bekerja di lembaga internasional karena iklim yang begitu kompetitif khususnya syarat kompetensi dan kualifikasi yang ketat seperti pendidikan, penguasaan bahasa asing, keterampilan, pengalaman dan integritas.

Menghabiskan masa kecil di hutan bakauÂ
Muhamad Nour, menghabiskan masa kecil di Strat Buntu, kini Kelurahan Karang Anyar Pantai, dan bersekolah di SDN 019 Jembatan Bongkok (dulu SD Inpres 024), SMPN 2 Tarakan, dan SMAN 2 Tarakan.
Tinggal di lingkungan bakau, seperti anak-anak pada umumnya, Nour kecil, lebih banyak bermain di kawasan pesisir perikanan, mencari kepiting, menjaring ikan dan menjala udang. Beliau mengaku untuk urusan prestasi akademik bukanlah murid yang cemerlang, prestasi akademiknya biasa saja.
Menjelang lulus SMA, Muhamad Nour menghadapi kegamangan memilih setelah lulus SMA, kuliah tapi terkendala ekonomi atau masuk dunia kerja dengan keterampilan kerja yang minim dan akses informasi kerja yang terbatas.
Muhamad Nour bercerita “saat itu, orang tua saya juga memiliki keterbatasan memberi bimbingan atas opsi kerja atau pilihan jurusan kuliah karena mereka sendiri tidak tahu apa yang harus disarankan, selain itu, mereka juga tak lulus SD. Dan saat itu, hampir tak ada orang yang jadi role model untuk diajak konsultasi dan tak tahu harus berbuat apa tentang rancangan masa depan,” lanjut Nour.
Meninggalkan Tarakan tahun 1993, Nour nekad berangkat kuliah ke Samarinda dengan misi mendaftar UMPTN (red: SMPTN saat ini) di Universitas Mulawarman, tanpa tahu harus memilih jurusan kuliah apa. Ternyata nasib baik berpihak pada nya, bisa diterima di jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman. “Itupun karena ikut-ikut teman” tambah Nour sambil tertawa mengingat masa awal kuliah. “Memilih jurusan Bahasa Inggris semata karena saya pikir setelah lulus, saya pulang kampung, jadi guru.

Mulai masuk dunia kerja
Sekali lagi, saat memasuki semester 8 dan pas setelah maju proposal skripsi, karena bisa ada sedikit kemampuan Bahasa Inggris, Nour diterima kerja di NGO Internasional, CARE, dengan gaji yang lumayan.
“Saat itu akhir 1998, krisis ekonomi gawat melanda dunia termasuk Indonesia. Paling tidak beban orang tua saya sedikit bisa ringan, karena saya bisa bantu bayar uang kuliah dan sekolah adik-adik saya. CARE merupakan tempat pertama saya masuk dunia kerja, ditempatkan di hulu Mahakam, sebagai staf lapangan. Kami bekerja mengorganisir masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan kemarau panjang merehabilitasi ladang padi, irigasi dan kebun mereka dengan prinsip padat karya dengan upah beras 50 kg per kepala keluarga,” Nour b
Pindah ke Ibukota
Lagi-lagi keberuntungan berpihak, tepat sehari setelah wisuda awal 2000, Nour berangkat ke Jakarta pertama kali nya, bekerja di kantor pusat CARE Jakarta. “Tak ada lain yang saya pikirkan saat itu, selain harus ke Monas, dan berfoto disana”, kenang Nour sambil tertawa.
Dari Jakarta lah Nour memulai karir yang lebih serius, terjun total di dunia kerja bantuan kemanusiaan. Kantornya menugaskan Nour ke banyak lokasi konflik dan bencana, seperti bantuan kemanusiaan untuk pengungsi lokal konflik Poso, bantuan logistik dan air bersih untuk pengungsi konflik pasca referendum di Timor Leste dan Atambua NTT.
Setelah merasa cukup petualangan bekerja dengan CARE, kemudian Nour bertekad menjajal tantangan baru dan di terima di UNICEF, organ PBB untuk urusan ibu dan anak. Dia ditempatkan di kota Namlea, Kabupaten Buru, Maluku, yang dikenal dulu sebagai pusat tahanan politik. Nour juga pernah ke Aceh, untuk bekerja singkat di program pemulihan korban pasca tsunami Aceh tahun 2005.

Terjun kerja membela kaum buruh
Mempertimbangkan persaingan dunia kerja saat itu, Nour memutuskan untuk kuliah S2 di Universitas Padjadjaran Bandung mengambil jurusan administrasi bisnis, sambil bekerja.
“Saya adalah sarjana pertama di keluarga besar saya di Tarakan, lalu saya lulus S2 itu jauh dari yang saya bayangkan. Yang tadinya, cita-cita saya hanya jadi guru Bahasa Inggris di kampung, kini tiba-tiba saja menjadi pekerja profesional bersama orang asing dari berbagai negara,” ujar Nour.
Nour kemudian bekerja ke ILO (International Labor Organization) yang merupakan agensi PBB yang fokus untuk urusan standar perburuhan, dan bekerja di proyek perlindungan pekerja migran, pemberantasan perdagangan orang dan di proyek promosi hak kerja layak pekerja rumah tangga.
Selama bekerja, Nour banyak memperoleh kesempatan berkunjung ke negara asing, seperti Swiss, Thailand, Malaysia, Singapura, Macau, Hong Kong, Korea Selatan.
Selain itu, Nour juga hobi berpetualang, khususnya negara yang memiliki pusat peradaban masa lalu seperti Angkor Wat Kamboja, Tembok Raksasa China, Taj Mahal India, Istanbul Turki, museum maritim Perth Australia dan Kyoto Jepang. Hingga kini, Nour telah berkunjung ke 15 negara, dan masih akan terus melanjutkan petualangannya.
Baginya, berjuang sendirian di kota besar menghadapi banyak hambatan dan persaingan sengit, dengan dukungan network yang minim, dibutuhkan skill adaptasi, integritas, kerja keras, mudah bergaul, menghormati orang lain, tidak overthinking, menjadi hal yang sangat penting untuk bertahan hidup dan tetap kompetitif. Dalam hal ini, Nour sangat mengandalkan sikap selalu bersyukur, berpikir positif, dan doa orang terdekat terutama orang tua dan keluarga.

Pesan bagi anak muda Tarakan dan Kaltara
Menurut Nour, berkaca dari pengalaman pada masa sekolah, berlimpah nya informasi pada masa kini, kaum muda Tarakan harus bergabung di organisasi yang ada.
Dengan berorganisasi kita banyak belajar keterampilan komunikasi, pengorganisasian, membangun, networking, team building, dan pengambilan keputusan. Menurut Nour, ini merupakan proses transisi yang baik untuk mengisi gap keterampilan yang dibutuh dunia kerja yang tidak diajarkan dibangku kuliah.
Sering-sering berdiskusi dengan orang tua dan orang yang kompeten untuk merancang rencana hidup, memilih jurusan kuliah, mencari beasiswa, dan cita-cita. Hal ini sekaligus bicara soal kemampuan keuangan keluarga dan opsi-opsi lainnya.
Intinya, dalam pengalaman karirnya, Nour menilai prestasi akademik tidak semata menjadi penentu kesuksesan dan keberhasilan. Hal-hal yang dia pelajari saat kecil justru banyak menjadi penentu dalam dunia kerja yang serba kompetitif saat ini. Pembelajaran di hutan bakau menjadi faktor penentu yang membentuk kekuatan karakter personal.
Nilai hidup seperti kejujuran, keterampilan bertahan hidup, dan keluwesan dalam bergaul justru bisa jadi penentu nasib kita dikemudian hari. Sembari mengingatkan, bahwa nilai akademik bagus masih dibutuhkan sebagai syarat administratif penerimaan beasiswa. “Jadi harus seimbang” ujar Nour. Tip penting lain adalah menjadi pribadi yang percaya diri, konsisten dan mencintai apa yang kita kerjakan.
Organisasi yang kredibel sering kali tidak mencari orang yang pintar tapi mereka lebih memilih orang yang tepat, bisa diajak kerjasama dalam tim. Nour tentu gembira saat ini, karena dia bisa jadi role model bagi sepupu nya sebab mereka kini sudah juga mengikuti jejaknya bekerja di Jakarta dan bahkan seorang sepupunya, kini bekerja di Melbourne Australia setelah menyelesaikan beasiswa master disana.
“Orang tua kami mungkin tidak selesai sekolah dasar dan berprofesi sebagai nelayan kecil dan berjualan kecil-kecilan, tapi mereka saat ini menikmati hasil jerih payah mereka”, ujar Nour sebagai penutup wawancara. (**/redaksi)















Discussion about this post