TARAKAN, Fokusborneo.com – Direktorat Sumber Daya (Ditdaya), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Ditjen Dikti, Kemendiktisaintek) menegaskan komitmennya dalam peningkatan mutu pendidikan tinggi di daerah perbatasan.
Komitmen ini diwujudkan melalui Program Magang dan Detasering yang menyasar Program Studi Teknik Elektro Universitas Borneo Tarakan (UBT) untuk akselerasi pencapaian akreditasi Unggul.
Tim Program Magang dan Detasering Ditdaya Kemendiktisaintek, yang dipimpin Prof. Ir. Tarkus Suganda, M.Sc., Ph.D, telah tiba di UBT untuk melaksanakan monitoring dan evaluasi, Sabtu (29/11/25).
Program ini bertujuan utama untuk mempersempit kesenjangan kualitas antarperguruan tinggi di Indonesia, selaras dengan perhatian pemerintah terhadap peningkatan kualitas pendidikan di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (3T).
Salah satu bentuk dukungan nyata adalah penugasan pakar dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) besar sebagai Detaser. Program ini mendatangkan Prof. Dr.-Ing. Ir. Faizal A. Samman, S.T.. M.I..IPU..AER.. ACPE.. APECEng dan Prof. Dr. Ir. H. Andani. M.T.. IPU, seorang akademisi berpengalaman dari Universitas Hasanuddin (Unhas), untuk memberikan pendampingan intensif.
”UBT, khususnya Program Studi Teknik Elektro, saat ini berada pada akreditasi Baik Sekali dan bertekad untuk lompat ke Unggul. Kami dari Ditdaya hadir dan membiayai operasional program pendampingan ini, termasuk mendatangkan pakar, untuk memastikan mereka mencapai target tersebut,” ujar Prof. Tarkus.
Ia menjelaskan detaser akan berbagi pengalaman dan pengetahuan, mulai dari strategi penyusunan dokumen akreditasi hingga praktik pembelajaran terkini, termasuk integrasi teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dalam kurikulum, yang telah diterapkan di Unhas.
Program ini tidak hanya berfokus pada Detasering atau pengiriman pakar ke UBT, tetapi juga mencakup Program Magang pengiriman dosen UBT ke PTN mitra.
”Program Magang memungkinkan dosen-dosen UBT untuk belajar langsung di kampus mitra, mengadopsi standar dan praktik terbaik. Ini adalah investasi negara untuk menyamakan kualitas lulusan, sehingga tidak ada lagi disparitas mutu yang signifikan antara perguruan tinggi di pusat dengan yang berada di daerah perbatasan,” jelasnya.
Seluruh biaya yang timbul dalam pelaksanaan Program Magang dan Detasering, termasuk biaya hidup, transportasi, dan honorarium detaser, kata Prof Tarkus sepenuhnya ditanggung oleh Ditdaya Kemendiktisaintek. Hal ini merupakan wujud nyata perhatian negara untuk merangsang peningkatan kualitas pendidikan di daerah.
UBT merupakan salah satu dari ratusan perguruan tinggi di seluruh Indonesia yang mengajukan proposal pembinaan ke Ditjen Dikti. Pemilihan didasarkan pada proposal yang detail, yang memaparkan secara spesifik permasalahan dan kebutuhan program studi seperti kekurangan tenaga dosen bergelar S3, atau kebutuhan pengembangan kurikulum berbasis teknologi baru.
”Kami mengapresiasi semangat UBT yang terus berupaya maju. Harapan Ditjen Dikti adalah agar kualitas pendidikan antar-perguruan tinggi semakin setara, dan Program Magang dan Detasering ini telah terbukti berhasil mendorong sejumlah perguruan tinggi, termasuk PTS kecil, untuk berkembang bahkan berubah status menjadi PTN-BH. Ini menunjukkan bahwa dengan intervensi program yang tepat, peningkatan kualitas pendidikan di daerah 3T bukan lagi hal yang mustahil,” tutupnya.(*/mt)












Discussion about this post