BALIKPAPAN, Fokusborneo.com — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan memastikan arah kebijakan anggaran tahun 2026 akan lebih ketat dan terfokus pada kebutuhan operasional inti.
Kabid Tata Lingkungan dan Perlindungan SDA DLH Balikpapan, Afrrizal, pada Rabu (3/12/25) mengatakan sejumlah kegiatan fisik terpaksa dihentikan sementara sebagai konsekuensi dari penyesuaian anggaran tersebut.
“Untuk anggaran 2026, kami tetap mengutamakan operasional. Mulai dari penggajian pegawai, BBM, suku cadang, hingga peralatan kerja teman-teman. Itu wajib berjalan dulu. Pekerjaan fisik terpaksa kami hold sementara,” jelas Afrrizal.
Ia menyebutkan kegiatan yang harus ditunda sementara mencakup pemeliharaan taman, perbaikan fasilitas di Tempat Pemakaman Umum (TPU), pembenahan sejumlah titik ruang terbuka hijau (RTH), serta peningkatan fasilitas di kawasan hutan kota.
Meski demikian, Afrrizal memastikan penghentian ini bersifat sementara hingga kondisi anggaran memungkinkan dilanjutkannya kembali program-program tersebut.
Menurutnya, rasionalisasi dilakukan untuk memastikan layanan dasar tetap berjalan optimal. DLH harus menjaga keberlangsungan operasional harian karena sektor tersebut berkaitan langsung dengan pelayanan publik, mulai dari pengelolaan pohon di jalan protokol hingga kesiapsiagaan terhadap potensi bencana lingkungan.
“Kami tetap bergerak untuk kebutuhan yang urgen, terutama terkait keselamatan. Kalau ada pohon tumbang, pemangkasan yang berisiko, atau aduan warga yang membutuhkan penanganan cepat, itu tetap dikerjakan,” tegasnya.
Afrrizal menjelaskan meski belanja fisik terbatas, tim DLH tetap melakukan kegiatan pemeliharaan minimal di beberapa titik strategis. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan yang lebih besar di kemudian hari.
Pihaknya juga berupaya mengoptimalkan penggunaan peralatan yang ada agar tetap efisien dan tidak menambah beban anggaran.
Selain berfokus pada operasional, DLH tetap menjalankan beberapa program prioritas non-fisik yang dinilai penting bagi keberlanjutan lingkungan kota.
Ini mencakup edukasi pengelolaan sampah, kampanye pemilahan dari sumber, pembinaan bank sampah, serta kerja sama dengan komunitas lokal dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Aktivitas-aktivitas ini menjadi penyeimbang di tengah keterbatasan anggaran fisik.
“Meski kegiatan fisik ditahan, kerja-kerja edukasi lingkungan tidak boleh berhenti. Ini penting untuk menjaga kesadaran masyarakat tetap tumbuh,” kata Afrrizal.
DLH juga berharap adanya ruang fiskal yang lebih longgar pada tahun-tahun berikutnya agar sejumlah fasilitas publik seperti taman kota, RTH, median jalan, dan TPU bisa kembali mendapatkan perhatian penuh. Menurut Afrrizal, kondisi ini harus dipahami sebagai bagian dari dinamika keuangan daerah yang harus dihadapi bersama.
“Kami berharap masyarakat tetap memahami situasi ini. Yang penting, pelayanan utama tetap berjalan dan kota tetap aman serta terjaga,” pungkasnya. (oc)















Discussion about this post