TARAKAN, Fokusborneo.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) terus memacu digitalisasi sistem pembayaran di sektor transportasi laut.
Setelah sukses meluncurkan program “Pelabuhan Siap QRIS” di Pelabuhan Tengkayu 1 Tarakan pada Desember 2025 lalu, BI Kaltara kini membidik seluruh pelabuhan utama di Bumi Benuanta untuk menerapkan sistem pembayaran digital pada tahun 2026 ini.
Hal tersebut disampaikan Kepala KPwBI Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, dalam pertemuan silaturahmi bersama awak media di Hotel Tarakan Plaza, Jumat (30/1/26).
Ia menegaskan kehadiran QRIS di pelabuhan merupakan upaya menghadirkan alternatif pembayaran yang lebih modern, cepat, dan transparan bagi masyarakat.
”Tujuan kita adalah menghadirkan alternatif pembayaran secara digital. Ini harus sudah dilakukan di provinsi kita, sama halnya dengan provinsi lain yang karakteristik daerahnya serupa, seperti Kepulauan Riau yang sudah lebih dulu maju digitalisasi pelabuhannya,” ujar Hasiando.
Berdasarkan peta jalan (roadmap) digitalisasi yang disusun bersama pemerintah daerah, terdapat lima pelabuhan utama yang menjadi fokus implementasi pembayaran tiket speedboat menggunakan QRIS. Hingga saat ini, Pelabuhan Tengkayu 1 telah resmi beroperasi secara digital dan akan disusul progres signifikan di Pelabuhan Kayan II, Bulungan.
Adapun timeline perluasan yang ditargetkan rampung sebelum memasuki semester II tahun 2026 adalah sebagai berikut Pelabuhan Kayan II Bulungan dan Pelabuhan Speedboat Malinau target pada Februari 2026, Pelabuhan Liem Hie Djung di Nunukan targetnya Maret 2026. Serta Pelabuhan Keramat (KTT) di targetkan April 2026.
”Harapannya, sebelum semester dua tahun ini, seluruh pelabuhan di lima kabupaten/kota tersebut sudah memiliki alternatif pembayaran nontunai. Kami ingin memastikan masyarakat memiliki opsi, baik tunai maupun QRIS,” tambah Hasiando.
Untuk mensukseskan target tersebut, BI Kaltara akan memperkuat sosialisasi melalui pemasangan alat informasi dan spanduk di titik-titik strategis pelabuhan. Hasiando juga menekankan pentingnya menjaga aspek kenyamanan bagi pengguna agar transisi dari tunai ke digital berjalan mulus.
”Digitalisasi ini bukan berarti menghapus tunai, tapi memberikan pilihan yang lebih nyaman. Kami akan terus memonitor agar layanan ini tetap terjaga kualitasnya di setiap pelabuhan,” pungkasnya.(*/mt)














Discussion about this post