SEBATIK, Fokusborneo.com – Di bawah langit senja Desa Binalawan, suasana hangat menyelimuti penutupan rangkaian reses Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara, Muhammad Nasir.
Bertempat di Mantikas, Sebatik Barat, Sabtu (21/2/26), momen serap aspirasi ini terasa lebih istimewa karena dirangkaikan dengan buka puasa bersama sekitar 130 warga setempat.
Hadir mendampingi warga, Kepala Desa Liang Bunyu, Mansur, bersama deretan tokoh masyarakat, agama, pemuda, hingga penggerak ibu-ibu.
Di tengah nikmatnya hidangan berbuka, mengalir pula diskusi jujur mengenai masa depan ekonomi dan lingkungan di beranda depan NKRI tersebut.
Dalam dialog tersebut, masyarakat menitipkan empat poin utama yang menjadi pekerjaan rumah bagi wakil rakyat dari Fraksi PKS ini pertama meminta modernisasi pertanian dan perikanan.
Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) mengharapkan dukungan sarana prasarana yang nyata untuk mendongkrak kesejahteraan peternak dan nelayan.
Kedua permohonan renovasi dan pembangunan fasilitas ibadah agar masyarakat bisa beribadah dengan lebih layak dan nyaman.
Ketiga persoalan sampah plastik rumput laut. Warga mengaku rajin bergotong-royong membersihkan limbah plastik budidaya, namun mereka membentur tembok besar karena kesulitan lokasi untuk membuang sampahnya. “Jadi kemana sampah ini harus dibuang?,” kata salah satu warga.
Warga menagih solusi sistemik agar lingkungan tidak rusak akibat limbah hasil produksi mereka sendiri.
Terakhir atau ke empat, persoalan konflik lahan jemuran. Para pembudidaya terjepit antara aturan ketat perlindungan mangrove dan kebutuhan lahan untuk menjemur rumput laut. Warga meminta regulasi yang adil agar ekonomi tidak mati demi konservasi.
Menanggapi rentetan aspirasi tersebut, Muhammad Nasir menegaskan perlindungan lingkungan dan urusan perut rakyat harus berjalan beriringan.
“Menjaga mangrove itu wajib, tapi mematikan mata pencaharian warga itu salah. Kita butuh solusi bijak berbasis kajian. Pembangunan tidak boleh kaku harus ada keseimbangan antara kelestarian alam dan kemakmuran rakyat,” tegas Nasir.
Mengenai sampah plastik, Nasir berkomitmen mendorong koordinasi lintas sektor untuk menciptakan sistem pengolahan limbah yang terintegrasi di Sebatik.
Ia memastikan seluruh usulan, mulai dari bantuan rumah ibadah hingga sarana tani, akan dikawal ketat di meja pembahasan anggaran DPRD Provinsi.
Menutup perjalanan resesnya di lima titik Kabupaten Nunukan, Nasir menekankan wilayah perbatasan seperti Sebatik adalah prioritas. Tantangan geografis yang berat menuntut perhatian yang lebih besar dari pemerintah.
“Reses ini bukan sekadar formalitas mendengar, tapi janji perjuangan. Apa yang menjadi wewenang provinsi akan saya kawal habis-habisan, dan yang wewenang kabupaten akan kita sinergikan,” pungkasnya.(*/mt)















Discussion about this post