TARAKAN, Fokusborneo.com – Sebuah momentum penting dalam upaya deradikalisasi di Kalimantan Utara (Kaltara) tercipta melalui diskusi publik bertajuk “Transformasi Ideologi Jemaah Islamiyah: Jalan Menuju Wasatiyah”.
Acara yang digelar di Universitas Borneo Tarakan, Selasa (28/04/26) ini, menjadi panggung bagi para pemangku kebijakan, eks tokoh kelompok radikal, dan akademisi untuk membedah strategi baru dalam menjaga keutuhan NKRI.
Kepala Satuan Tugas Wilayah (Kasatgaswil) Kaltara Densus 88 Antiteror Polri, AKBP. Vanggivantozy Praduga Satria, menegaskan pendekatan keamanan saat ini telah bergeser dari sekadar penindakan menuju kolaborasi dan dialog.
Vanggivantozy menyebut kembalinya anggota Jemaah Islamiyah (JI) ke paham Wasatiyah (moderat) sebagai kemenangan ideologis bangsa.
“Kelompok yang dulunya berseberangan kini berpeluang kembali membangun bangsa. Ini transformasi nyata yang harus didukung oleh sinergi TNI-Polri, pemerintah, dan masyarakat,” ungkapnya.
Mengulas pengalamannya saat menangani Bom Thamrin 2016, ia memberikan catatan kritis terorisme bukan soal identitas agama, melainkan distorsi pemahaman.
“Musuh kita bukan orangnya, tapi ideologinya. Karena itu, penanganannya harus melibatkan tokoh agama dan akademisi untuk memutus akar persoalan secara ilmiah,” tegas Vanggivantozy.
Hadir sebagai narasumber, Muhammad Najih Arromadlono (Gus Nadji) dari LAKPESDAM PBNU, memberikan perspektif tajam mengenai akar radikalisme.
Menurutnya, radikalisme adalah produk dari pemahaman agama yang parsial dan mengabaikan konteks sejarah (asbabun nuzul).
“Terorisme bukan lahir dari kuatnya iman, melainkan dari kedangkalan pemahaman. Islam adalah Rahmatan lil ‘Alamin. Jika ada ajaran yang merusak, maka pemahamannya yang keliru, bukan agamanya,” ujar Gus Nadji di hadapan ratusan mahasiswa.
Ia juga mengapresiasi pendekatan humanis Densus 88. Menurut Gus Nadji, perang melawan terorisme adalah perang pemikiran, bukan sekadar perang fisik.
Gus Nadji mengajak mahasiswa untuk selalu kritis terhadap narasi yang mempertentangkan antara nasionalisme dan agama.
Salah satu poin paling krusial dalam diskusi ini adalah paparan Gus Nadji mengenai adaptasi kelompok radikal di dunia digital.
Ia mengungkapkan data mengejutkan pada tahun 2025, sebanyak 110 anak telah diamankan karena terpapar paham radikal.
Menurutnya, media sosial menjadi alat doktrinasi otomatis bagi anak-anak yang sering terpapar konten kekerasan. Platform seperti Roblox dan Free Fire kini digunakan untuk simulasi perang bagi anak di bawah umur.
Panduan merakit bom kini mudah ditemukan melalui mesin pencari dan bahan-bahannya tersedia di platform e-commerce. Ini perlu antisipasi karena pelaku individu yang teradikalisasi secara mandiri bisa merakit sendiri di rumah tanpa bergabung dengan jaringan fisik.
“Kelompok moderat jumlahnya besar namun seringkali kalah aktif di media sosial dibandingkan kelompok ekstrem yang sangat agresif menyebarkan narasi,” jelas Gus Nadji.
Diskusi ini diakhiri dengan kesepakatan perguruan tinggi harus menjadi garda terdepan dalam mencegah radikalisme.
Rektorat dan akademisi diharapkan mampu menciptakan ruang diskusi terbuka yang kritis agar mahasiswa tidak terjerumus pada ideologi tertutup.
Acara ini turut menghadirkan narasumber dari pihak eks internal kelompok, yakni Ustadz Parawijayanto dan Ustadz Wiji Joko Santoso, yang memberikan kesaksian mengenai proses reintegrasi mereka ke pangkuan NKRI.
Dengan adanya sinergi antara aparat, tokoh agama, dan institusi pendidikan, Kaltara diharapkan mampu menjadi wilayah yang tangguh terhadap pengaruh radikalisme yang kini mulai bertransformasi ke ranah digital.(*/mt)















Discussion about this post