TARAKAN, Fokusborneo.com – Gelombang pertanyaan dan keluhan masyarakat terkait Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 akhirnya mendapat jawaban resmi.
Menanggapi riak-riak yang muncul di tengah publik, SMA Negeri 1 Tarakan angkat bicara. Mereka menegaskan bahwa seluruh proses seleksi khususnya jalur prestasi berjalan tanpa kongkalikong dan murni berbasis Petunjuk Teknis (Juknis) dari Pemerintah Provinsi.
Kepala SMAN 1 Tarakan, Jasmin, S.Pd., memastikan sekolahnya tidak memiliki ruang untuk bermain dalam menentukan kelulusan siswa. Semua proses tunduk pada Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara).
“Kami bergerak tegak lurus dengan juknis SK Gubernur. Ada empat jalur yang dibuka—domisili, prestasi, mutasi, dan perpindahan tugas orang tua—dan semuanya berjalan otomatis lewat sistem yang sudah terkunci mekanismenya,” tegas Jasmin, Selasa (23/6/26).
Membongkar rasa penasaran publik mengenai bagaimana seorang calon siswa bisa lolos lewat jalur prestasi, Jasmin membeberkan adanya empat komponen utama yang diakumulasikan sistem menjadi nilai akhir
Empat komponen tersebut terdiri dari rata-rata nilai rapor 5 semester terakhir, nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA), sertifikat prestasi (Akademik maupun Nonakademik), serta pengalaman organisasi (Khusus mantan Ketua OSIS, Pramuka, PMR, atau sejenisnya).
“Keempat komponen ini dilebur jadi satu. Hasil rata-rata akumulatif itulah yang otomatis memeringkat posisi siswa di sistem. Jadi, adil dan terukur,” jelasnya.
Menjawab isu miring mengenai diskriminasi jenis perlombaan, Jasmin meluruskan sekolah tidak pernah menganaktirikan kompetisi yang digelar secara daring (online). Selama dokumen pendukung dan sertifikatnya valid, poin tetap mengalir.
Bukan metode lombanya yang membuat poin berbeda, melainkan bobot dari skala kompetisi itu sendiri.
“Mau lombanya online atau offline, bagi kami sama saja, asalkan datanya akurat. Yang membuat poinnya beda itu levelnya apakah tingkat kabupaten, provinsi, nasional, atau internasional. Termasuk juga posisinya, juara satu jelas beda poinnya dengan finalis, begitu pula kategori individu dibanding beregu. Semua skoringnya sudah dikunci oleh juknis,” urai Jasmin.
Ia juga menepis kekhawatiran orang tua mengenai potensi main mata operator sekolah.
“Operator kami tidak punya kuasa mengubah angka atau mendongkrak bobot nilai. Tugas mereka murni hanya validasi dan verifikasi dokumen fisik yang diunggah. Sistem yang menghitung poinnya secara otomatis. Jadi, jangan khawatir ada manipulasi,” tegasnya.
Namun, Jasmin memberi catatan tebal tidak semua sertifikat ‘laku’ dalam seleksi ini. Prestasi yang diakui hanyalah kompetisi berjenjang resmi.
“Kalau juaranya cuma di tingkat sekolah, lomba antar-RT, atau tingkat kelurahan, mohon maaf, itu tidak masuk hitungan karena juknisnya memang tidak mengakomodasi itu,” jelasnya.
Tahun ini, jalur prestasi di SMAN 1 Kota Tarakan terbilang sangat kompetitif. Sekolah unggulan ini mengalokasikan 35% kuota dari total daya tampung 432 siswa. Artinya, hanya ada sekitar 151 kursi yang diperebutkan melalui jalur ini.
Jasmin menjamin seluruh proses SPMB tahun ini memegang teguh prinsip objektivitas, transparansi, dan bebas dari diskriminasi.
Ia bahkan memilih turun gunungmemantau langsung proses di lapangan setiap hari guna meredam simpang siur informasi di masyarakat.
“Saya sengaja selalu stand by di sekolah demi mendengar langsung keluhan dan pertanyaan orang tua murid. Kami ingin meluruskan informasi yang simpang siur di luar sana. Kami pastikan, SPMB di SMAN 1 Tarakan berjalan sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya,” pungkas
Jasmin sekaligus menegaskan dinamika terkait perpindahan siswa yang sempat mencuat kini telah diselesaikan sesuai prosedur.(*/mt)














Discussion about this post