TANA TIDUNG, Fokusborneo.com – Program peningkatan kompetensi guru berbasis Technological, Pedagogical, and Content Knowledge (TPACK) dalam Program Sekolah Unggul Masuk Desa (SUMD) Tahun 2026 resmi dituntaskan setelah berlangsung selama tiga hari di Ruang Rapat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tana Tidung.
Kegiatan tersebut ditutup oleh Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Disdikbud Tana Tidung, Jumadilriansyah, S.Sos., yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tana Tidung.
Pelatihan ini merupakan tahap kedua dari delapan rangkaian pendampingan berjenjang yang dijadwalkan berlangsung sepanjang Mei hingga Desember 2026. Kegiatan diikuti oleh pengawas, kepala sekolah, dan guru dari sepuluh satuan pendidikan pelaksana, dengan Universitas Negeri Malang (UM) sebagai mitra akademik yang telah mendampingi program SUMD sejak tahap survei pada 2024 dan fase fondasi pada 2025.
Selama pelaksanaan, hasil evaluasi menunjukkan tingkat pemahaman peserta mencapai 75 persen, sementara eksplorasi pengetahuan mandiri mencapai 90 persen. Capaian tersebut diperoleh melalui penilaian atas lima penugasan dan tiga tes yang seluruhnya melampaui standar minimal 75 persen.
Dalam tiga hari pelatihan atau setara 24 jam pembelajaran, para peserta tidak hanya menerima materi konseptual, tetapi juga langsung mempraktikkan implementasi teknologi pembelajaran. Guru-guru mencoba lima aplikasi digital berbasis offline-first yang disesuaikan dengan kondisi wilayah 3T, menyusun perangkat ajar berbasis TPACK, serta melaksanakan lesson study siklus pertama secara kolaboratif.
Dari rangkaian tersebut, peserta menghasilkan empat produk pembelajaran, yakni Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau modul ajar berbasis TPACK, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), media pembelajaran, serta perangkat asesmen.
Pada tahap lanjutan, peserta juga memperdalam penerapan lesson study dengan menyusun lesson plan secara kolaboratif bersama rekan sejawat. Rencana pembelajaran tersebut kemudian diimplementasikan di sekolah masing-masing dan didokumentasikan dalam bentuk video sebagai bukti penerapan di kelas.
Kegiatan ini dirancang dengan pendekatan andragogi yang menekankan praktik langsung (hands-on) serta penguatan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS), mulai dari menganalisis, mengevaluasi, hingga mengkreasi. Proses pembelajaran luring juga dilanjutkan dengan pemantauan daring untuk memastikan implementasi berjalan di satuan pendidikan.
Rangkaian program SUMD Tahun 2026 sendiri mengacu pada hasil evaluasi Context, Input, Process, Product (CIPP) pada 2025 yang melibatkan 10 sekolah, 85 guru, dan 10 kepala sekolah. Evaluasi tersebut mencatat capaian rata-rata 3,28 dari skala 4,00 atau dalam kategori sangat baik, dengan tingkat kedisiplinan mencapai 91,4 persen. Meski demikian, masih terdapat sejumlah tantangan, khususnya pada aspek daya saing global dan integrasi teknologi pembelajaran.
Program ini ditetapkan sebagai Fase Konsolidasi yang diarahkan untuk mengubah budaya administrasi menjadi budaya kompetensi nyata di ruang kelas.
Dalam sambutan penutupan, Jumadilriansyah menyampaikan apresiasi kepada Universitas Negeri Malang yang terus mendampingi peningkatan mutu pendidikan di Tana Tidung.
“Budaya sekadar memenuhi dokumen harus kita ubah menjadi budaya kompetensi nyata. Setiap produk pembelajaran harus benar-benar diterapkan, bukan berhenti di atas kertas,” tegasnya.
Ia juga berharap para pengawas dapat terus mengawal implementasi program hingga ke tingkat sekolah. Program TPACK SUMD 2026 diharapkan menjadi fondasi kuat menuju Fase Ekspansi 2027 dan Replikasi 2028 dalam rangka mewujudkan generasi unggul di Kabupaten Tana Tidung.(**)














Discussion about this post