TANJUNG SELOR, Fokusborneo.com – Pemerintah Kabupaten Bulungan mendorong pengembangan perkebunan kelapa sawit dan kakao dilakukan secara produktif sekaligus berkelanjutan. Upaya itu dilakukan melalui sosialisasi budidaya tanaman perkebunan dan penyaluran ribuan benih kepada kelompok tani dan pekebun.
Wakil Bupati Bulungan Kilat, A.Md membuka kegiatan sosialisasi budidaya tanaman perkebunan kelapa sawit dan kakao di Balai Desa Jelarai, Tanjung Selor, Senin (14/9/2026). Dalam kegiatan tersebut, Wabup bersama Dinas Pertanian juga menyerahkan bantuan benih kepada sejumlah kelompok tani.
Kilat mengatakan kelapa sawit dan kakao memiliki peluang yang cukup besar untuk terus dikembangkan di Bulungan. Namun, pengembangannya perlu memperhatikan kesesuaian lahan, penerapan teknologi budidaya, produktivitas, kualitas hasil serta prinsip keberlanjutan.
“Kelapa sawit dan kakao memiliki peluang cukup baik untuk terus dikembangkan. Tentunya dengan memperhatikan kesesuaian lahan, penerapan teknologi budidaya yang tepat, produktivitas, kualitas hasil serta prinsip-prinsip keberlanjutan,” ujar Kilat.
Menurutnya, potensi perkebunan tersebut harus dibarengi dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani. Keberhasilan usaha perkebunan tidak semata-mata ditentukan oleh luas lahan, tetapi juga bagaimana lahan tersebut dikelola secara tepat sejak awal hingga menghasilkan produk.
Pengelolaan itu mencakup pemilihan benih berkualitas, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman hingga proses panen dan pascapanen.
“Keberhasilan usaha perkebunan tidak hanya ditentukan luas lahan yang dimiliki, tetapi bagaimana lahan tersebut dikelola dengan baik,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 4.830 polybag benih kelapa sawit berusia empat bulan dan 11.000 polybag benih kakao siap tanam diserahkan kepada sejumlah kelompok tani.
Kepala Dinas Pertanian Bulungan Kristiyanto, SP, MT berharap bantuan benih yang disertai sosialisasi budidaya dapat meningkatkan pemahaman petani. Dengan begitu, bantuan yang diberikan tidak hanya menambah jumlah tanaman, tetapi mampu mendorong peningkatan produktivitas perkebunan masyarakat.
Kristiyanto mengungkapkan produktivitas kelapa sawit di tingkat petani masih memiliki ruang yang cukup besar untuk ditingkatkan.
Dalam kondisi optimal, produksi kelapa sawit minimal dapat mencapai sekitar 20 ton per hektare per tahun, bahkan berpotensi mencapai 35 ton per hektare. Namun, masih terdapat petani yang hanya menghasilkan sekitar 15 ton per hektare.
“Kalau petani menghasilkan hanya 15 ton per hektare, berarti ada potensi produksi yang tidak didapatkan,” ungkapnya.
Potensi peningkatan produktivitas juga terdapat pada komoditas kakao. Dalam satu tahun, produksi kakao secara optimal dapat mencapai sekitar 800 kilogram hingga 1 ton per hektare. Namun, produksi yang diperoleh sebagian masyarakat masih berada pada kisaran 300 hingga 400 kilogram per hektare.
“Demikian juga dengan kakao, setiap tahunnya minimal bisa menghasilkan sekitar 800 kilogram sampai 1 ton per hektare. Tapi yang didapat masyarakat baru sekitar 300 sampai 400 kilogram per hektare. Artinya ada potensi pendapatan yang hilang,” sebut Kristiyanto.
Melalui bantuan benih dan penguatan kapasitas petani, Pemkab Bulungan berharap produktivitas sawit dan kakao dapat terus meningkat. Pengelolaan perkebunan yang baik juga diharapkan mampu memberikan nilai ekonomi lebih besar bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lahan dalam jangka panjang.(**)











Discussion about this post