KENDAL, Fokusborneo.com – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Borneo Tarakan (UBT) sekaligus Wakil Ketua ISEI Kaltara, Dr. Margiyono, menilai pentingnya penguatan investasi untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan transformasi perekonomian di Kalimantan Utara (Kaltara).
Menurutnya, pola pertumbuhan ekonomi Kaltara dalam beberapa tahun terakhir belum berada pada jalur increasing returns to scale, dengan tingkat pertumbuhan yang masih berkisar di angka 5 persen, bahkan triwulan tahun 2026 hanya mencapai sekitar 4,9 persen.
Kondisi ini masih sangat dipengaruhi oleh dominasi sektor pertambangan yang rentan terhadap fluktuasi harga global serta tren penurunan pertumbuhan ekonomi dunia.
”Pertumbuhan global yang lebih rendah turut berdampak pada penurunan permintaan komoditas ekspor kita, termasuk batubara dari negara-negara mitra seperti China dan India,” ujar Dr. Margiyono, Selasa (27/10/26).
Berdasarkan hasil kunjungan kerja ke Kawasan Industri Kendal, tercatat kawasan tersebut mengelola hampir 144 perusahaan dengan tingkat operasional mencapai 71 persen dan menyerap sekitar 77.000 tenaga kerja.
Kendati demikian, Kaltara melalui Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) di Tanah Kuning memiliki keunggulan komparatif yang jauh lebih kompetitif jika dibandingkan dengan Kendal.
Dr. Margiyono memaparkan bahwa Kaltara memiliki keunggulan utama berupa kedekatan dengan bahan baku industri seperti karet dan komoditas pendukung lainnya yang tersedia langsung di sekitar wilayah Kalimantan.
Selain itu, posisi geografis Kaltara yang berdekatan dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II dan Selat Makassar menempatkannya jauh di depan dalam mengakses pasar Asia-Pasifik dibanding kawasan industri di Pulau Jawa.
”Keunggulan komparatif ini harus menjadi pijakan untuk membangun keunggulan kompetitif. Dengan bahan baku dan pasar yang dekat, biaya transportasi menjadi lebih rendah, sehingga daya saing produk kita akan semakin tinggi,” tegasnya.
Untuk menarik minat investor agar menanamkan modalnya di KIHI Tanah Kuning, pemerintah daerah didorong untuk meningkatkan intensitas promosi serta menawarkan kebijakan insentif fiskal yang menarik, seperti fasilitas tax holiday atau keringanan pajak sebagaimana yang dinikmati oleh perusahaan di kawasan industri lain.
Ia menambahkan, masuknya investasi besar ke kawasan industri hijau tidak hanya akan menyerap tenaga kerja lokal, tetapi juga memicu multiplier effect bagi sektor pendukung lainnya seperti jasa transportasi udara dan laut, perhotelan, hingga pariwisata.
”Pemerintah daerah harus lebih masif mengomunikasikan keunggulan-keunggulan ini kepada calon investor global, demi menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru, serta mendongkrak pendapatan daerah dari sektor pajak,” pungkas Dr. Margiyono.(**)














Discussion about this post