TARAKAN – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara H. Suriansyah, S.Ag. M.Pd membuka langsung rapat koordinasi Sistem Informasi dan Manajemen Pendidik dan Tenaga Kependidikan pada Kementerian Agama (Simpatika) tahun 2019 di Hotel Duta Kota Tarakan, Kamis (24/10/19). Kegiatan yang diikuti seluruh madrasah se-kaltara ini Kakanwil mengingatkan kepada operator Simpatika Madrasah agar tidak salah dalam memasukan data tenaga pendidik dan kependidikan.
Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Kaltara H. Suriansyah, S.Ag. M.Pd mengatakan rakor ini untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada operator Simpatika supaya ada integritas data untuk mengangkat harkat dan martabat guru. Data guru yang ada di madrasah perlu terus diperbarui serta dilakukan validasi dan verifikasi.
“Simpatika ini terkoneksi dengan data pokok pendidikan (Dapodik) di dinas pendidikan. Jadi data guru dengan tenaga kependidikan semua ada disana. Sehingga mudah untuk melakukan TPG, tunjangan kemudian melihat data-data guru secara detail. karena kelemahan kita ada di data,” ujarnya.

Simpatika sebagai sistem online pengendalian dan pengawasan internal PTK yang dikembangkan secara mandiri Kemenag bekerjasama dengan PT. Telkom Indonesia. Mulai 2015 lalu Aplikasi ini sudah digunakan Kemenag dalam menginput data. Keunggulanya data ini menjadi mudah dan terekam dengan baik.
“Keunggulan penggunaan aplikasi Simpatika setiap mencari data bisa cepat didapatkan dengan sistem yang bekerja sehingga kebutuhan akan data baik data pendidik maupun kependidikan menjadi mudah untuk memberikan implikasi dalam menentukan keputusan dan kebijakan pimpinan diatasnya,” bebernya.

Layanan Simpatika ini memudahkan program kerja Kemenag dalam kepentingan PTK seperti program digitalisasi, pemberian bantuan atau beasiswa PTK, pemetaan mutu PTK, seleksi sertifikasi guru kemenag, VerVal Inpassing, SKBK online dan beberapa program lainnya.
“Saya ingin bahwa kita tidak terjebak dalam rutinitas. Sebagai seorang tenaga pendidik maka yakinkan bahwa kita sebagai agen perubahan. Kedua pendidik itu adalah pemimpin dengan segala kapasitas pemimpin harus menjadi contoh dan menjadi karakter yang mengedukasi masyarakat,” terangnya.

Suriansyah berpesan kepada tenaga pendidik dan kependidikan yang merupakan bagian dari agen perubahan bisa memberikan contoh melakukan perubahan baik dilingkungannya maupun lingkungan masyarakat. Jadi ada proses perubahan tingkah laku yang diinginkan supaya dalam pendidikan agama islam khususnya madrasah muridnya bertauhid baik dan berkarakter rahmatan lil alamin menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. (spo/aii)
