TARAKAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan komitmennya dalam memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal, khususnya yang bergerak di sektor perikanan bandeng.
Hal ini diungkapkan Jackson Situmorang, Ketua Yayasan Hidup Berbagi Kasih yang juga merupakan mitra MBG, usai menghadiri rapat dengar pendapat dengan DPRD Kota Tarakan pada Kamis (17/4/25).
Situmorang menjelaskan bahwa program yang telah berjalan sejak peluncurannya ini akan terus berlanjut, kecuali pada hari libur. “Minggu ini mulai tanggal 14 sampai hari ini besok libur, sudah lanjut lagi di minggu depan. Semenjak launching sampai hari ini tetap berlanjut selain di hari libur. Program ini akan jalan terus,” ujarnya.
Lebih lanjut, Situmorang menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan evaluasi untuk meningkatkan efektivitas program. “Yang harus dievaluasi, apa yang kurang kita tambahkan karena masih baru semua,” katanya.
Saat ini, program MBG menyiapkan sekitar 3.180 porsi makanan untuk didistribusikan, meskipun alokasi awal untuk satu dapur mencapai 3.500 porsi.
“Untuk saat ini kita siapkan 3.180, kita diberikan 3.500 untuk 1 dapur, tapi kita masih 3.180 dan itu bisa berubah. Macam SMA kelas 3 sudah selesai ujian berkurang sudah jadi dia berubah-ubah setiap jumlahnya. Tergantung berapa jumlah yang masuk ke sekolah, karena itu update tiap hari,” jelasnya.
Nilai gizi dan menu makanan pun disesuaikan dengan kelompok usia penerima manfaat, mulai dari siswa TK hingga SMA, termasuk ibu hamil dan menyusui.
“Nilainya bervariasi, dari kelas TK sampai dengan kelas 3 SD itu nilainya lebih kecil dibanding kelas 4 sampai SMA termasuk ibu hamil dan menyusui. Untuk menunya setiap hari berbeda biar anak-anak tidak bosan,” imbuh Situmorang.
Salah satu fokus utama Yayasan Hidup Berbagi Kasih sebagai mitra program MBG adalah memberdayakan UMKM lokal, khususnya pengusaha bandeng di Tarakan.
“Kita pengen membuat brand sendiri jadi kita pengen UMKM Tarakan seperti bandeng tanpa duri, bandeng presto untuk meningkatkan kesejahteraan UMKM di Tarakan karena saya pikir di Tarakan penghasil bandeng,” tegasnya.
Untuk mendukung keberlanjutan program dan memenuhi kebutuhan bahan baku, yayasan juga tengah mengembangkan kelompok tani di Juata.
“Untuk ke depan pasti butuh sayur maka saya buat kelompok tani di Juata untuk men-supply sayur-sayur yang kita butuhkan ke depan dan itu pemerintah harus bantu dan dukung. Saat ini baru membentuk kelompok tani,” ungkap Situmorang.
Kebutuhan sayur untuk dapur umum setiap harinya mencapai lebih dari 200 kilogram, tergantung pada jumlah siswa dan jenis sayuran.
“Kebutuhan sehari sayur di dapur umum itu sekitar 200 kilogram lebih tergantung jumlah siswa, jenis sayur, kacang panjang, wortel, sawi, buncis, kecambah, wortel tidak ada dari lokal, lokal mau berdayakan. Saat ini sayur dari supplier, berdayakan potensi lokal, pingin seperti itu,” jelasnya.
Situmorang menyoroti potensi bandeng tanpa duri sebagai produk khas Tarakan yang diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi UMKM lokal.
“Bandeng tanpa duri itu khas Tarakan, meski mahal nantinya akan disesuaikan porsinya. Bandeng tergantung tidak setiap hari, sesuai jadwal ada bandeng, ikan, ayam, telur, bervariasi anak-anak tidak bosan. Bandeng itu rata-rata sekali masak bisa sampai 270 kilogram bahkan sampai 300 kg tergantung jumlah anak,” terangnya.
Dalam operasionalnya, Yayasan Hidup Berbagi Kasih mempekerjakan 47 karyawan yang bertugas mulai dari memasak pada malam hari pukul 10, pengemasan pada pukul 5 subuh, hingga pengantaran sesuai shift.
“Yayasan masak mulai malam jam 10, packing jam 5 subuh pengantaran sampai selesai sesuai shift dengan karyawan 47, koki, distributor packing sama cuci piring, manfaatkan di yayasan,” pungkas Situmorang.(**)












Discussion about this post