BALIKPAPAN, Fokusborneo.com — Keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) menjadi salah satu indikator penting dalam mendukung kualitas hidup masyarakat perkotaan.
Di Balikpapan, jumlah taman kota yang dikelola pemerintah terus bertambah dari tahun ke tahun. Saat ini tercatat sekitar 62 taman aktif dan pasif yang tersebar di seluruh kecamatan, dari pusat kota hingga wilayah pinggiran.
Afrrizal Rahman, Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Perlindungan Sumber Daya Alam (SDA) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan, menjelaskan puluhan taman ini memiliki fungsi strategis bagi kesejahteraan warga, termasuk sebagai paru-paru kota, ruang interaksi sosial, sarana olahraga, hingga lokasi rekreasi keluarga.
“Taman memiliki peran penting bagi anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Anak-anak dapat bermain, remaja melakukan olahraga, dan orang dewasa dapat bersantai. Ruang publik yang terawat meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.
Meski peran taman sangat vital, pengelolaan RTH menghadapi sejumlah tantangan. Taman aktif, seperti Taman Bekapai, Taman 3 Generasi, dan Taman Pesut, kerap digunakan oleh tuna wisma sebagai tempat bermalam. Kondisi ini menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pengunjung, khususnya pada malam hari.
Afrrizal menambahkan, masih ada oknum yang merusak fasilitas taman. Bangku, lampu penerangan, dan elemen dekoratif ditemukan rusak atau hilang. Kerusakan ini menambah beban biaya perawatan dan mengurangi kenyamanan pengunjung.
Masalah lain yang cukup mengkhawatirkan adalah ketidakdisiplinan masyarakat dalam membuang sampah. Meskipun setiap taman telah dilengkapi bak sampah 3R (Reduce, Reuse, Recycle), sebagian pengunjung masih membuang sampah sembarangan. Sampah plastik, kemasan makanan, dan puntung rokok menjadi temuan paling dominan.
“Perilaku itu yang merusak estetika taman dan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan lingkungan,” tandasnya.
Pada taman pasif, seperti median jalan atau taman pinggir jalan protokol, petugas masih menemukan sampah yang terselip di sela-sela tanaman. Perawatan taman pasif memerlukan ketelitian ekstra agar estetika dan fungsi tanaman tetap terjaga.
DLH Balikpapan telah menyiapkan langkah-langkah pengelolaan RTH yang lebih sistematis, mulai dari pemeliharaan rutin, perbaikan fasilitas rusak, penyiraman tanaman, pemangkasan, hingga penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga ruang publik.
Afrrizal menekankan bahwa peran serta masyarakat sangat menentukan keberhasilan pengelolaan taman.
Selain itu, DLH bekerja sama dengan komunitas, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), dan sekolah untuk meningkatkan edukasi lingkungan.
Program ini menekankan kesadaran sejak dini agar generasi muda lebih menghargai dan merawat fasilitas publik. Afrrizal berharap kesadaran masyarakat meningkat secara berkelanjutan.
“Taman yang bersih dan terawat akan menjadi tempat yang nyaman, aman, dan menyenangkan bagi seluruh warga. Setiap kontribusi, seperti membuang sampah pada tempatnya atau tidak merusak fasilitas, berdampak besar pada keindahan, kenyamanan, dan keamanan ruang publik,” ujarnya. (oc)















Discussion about this post