BALIKPAPAN, Fokusborneo.com — Keasrian taman kota dan jalur hijau menjadi salah satu indikator penting kualitas kehidupan masyarakat perkotaan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan memastikan kebutuhan tenaga kerja untuk menjaga keindahan dan keamanan ruang terbuka hijau terpenuhi.
Hal tersebut disampaikan Afrrizal, Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Perlindungan Sumber Daya Alam (SDA) DLH, Selasa (25/11/2025).
Saat ini, total 224 petugas terlibat langsung dalam pengelolaan taman dan jalur hijau. Jumlah tersebut mencakup petugas taman, petugas perintisan, petugas penyiraman dan petugas kebersihan yang tersebar di taman aktif maupun pasif di seluruh wilayah Balikpapan.
Aktivitas mereka dimulai sejak pagi hingga sore, termasuk di akhir pekan, untuk memastikan kondisi taman tetap bersih, aman, dan nyaman bagi pengunjung.
“Taman di kota ini cukup banyak, termasuk jalur hijau di pinggir jalan dan median jalan. Untuk menangani semuanya, jumlah petugas saat ini sudah memadai,” kata Afrrizal.
Pekerjaan petugas mencakup berbagai tugas teknis yang detail. Penyiraman tanaman dilakukan secara rutin untuk menjaga pertumbuhan, sementara pemangkasan tanaman liar membantu mengurangi risiko gangguan bagi fasilitas taman.
Petugas juga memeriksa kondisi bangku, lampu taman, dan elemen dekoratif lainnya. Tanaman yang rusak akibat cuaca, binatang, atau ulah manusia segera diganti agar taman tetap rapi dan estetis.
Petugas perintisan bertugas menata area baru yang direncanakan menjadi ruang terbuka hijau, termasuk menyiapkan tanah, menanam pohon, dan menata jalur pejalan kaki.
Afrrizal menekankan koordinasi dan evaluasi berkala menjadi kunci kelancaran pengelolaan taman. Setiap petugas mendapat arahan teknis serta pemantauan rutin, sehingga prioritas perawatan dapat diatur sesuai kebutuhan masing-masing lokasi.
Jika ada taman yang memerlukan perhatian lebih, rotasi dan penyesuaian tugas dilakukan agar semua area tetap terawat.
Tantangan terbesar tetap berasal dari perilaku masyarakat. Kerusakan fasilitas, pembuangan sampah sembarangan, serta penggunaan taman yang tidak sesuai fungsi masih ditemukan.
Meski setiap taman telah dilengkapi bak sampah 3R (Reduce, Reuse, Recycle), sampah plastik, kemasan makanan, dan puntung rokok sering tercecer. Di beberapa taman pasif, sampah bahkan terselip di sela-sela tanaman, sehingga perawatan memerlukan waktu tambahan dan tenaga ekstra.
Afrrizal menegaskan bahwa peran masyarakat sangat penting. “Taman ini adalah ruang publik. Petugas telah bekerja maksimal untuk menjaga keasriannya, namun pengunjung juga harus ikut merawat, membuang sampah pada tempatnya, dan tidak merusak fasilitas,” ujarnya.
DLH juga memperhatikan keamanan taman, terutama bagi anak-anak dan warga yang berolahraga. Jalur pejalan kaki harus bebas dari rintangan, area bermain anak diperiksa secara rutin, dan pencahayaan taman dijaga agar pengunjung merasa aman. Termasuk mempersiapkan laporan berkala untuk menilai efektivitas perawatan dan perbaikan fasilitas.
Selain menjaga taman yang sudah ada, DLH menyiapkan rencana pengembangan taman baru secara bertahap, terutama di lokasi yang memiliki lahan kosong atau kurang dimanfaatkan.
Dengan tambahan SDM dan pengawasan yang baik, taman baru dapat segera dimanfaatkan masyarakat sebagai ruang rekreasi, interaksi sosial, dan edukasi lingkungan.
Afrrizal menegaskan, keberhasilan pengelolaan ruang terbuka hijau tidak hanya diukur dari jumlah taman atau luas area hijau, tetapi juga dari kualitas pengalaman pengunjung. Kebersihan, keamanan, dan kenyamanan harus menjadi prioritas utama.
“Dengan petugas yang memadai dan masyarakat yang ikut menjaga, taman dan jalur hijau di Balikpapan dapat menjadi ruang publik yang menyenangkan, sehat, dan aman untuk semua generasi,” tutupnya. (oc)















Discussion about this post