TARAKAN, Fokusborneo.com – Antusiasme masyarakat Pulau Tarakan untuk merayakan malam pergantian tahun 2025 ke 2026 tampaknya harus dibarengi dengan persiapan payung dan jas hujan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Tarakan baru saja merilis prakiraan cuaca yang menunjukkan bahwa langit utara Kalimantan kemungkinan besar tidak akan cerah sepenuhnya pada malam perayaan nanti.
Berdasarkan data satelit cuaca, hujan dengan intensitas ringan diprediksi akan mulai membasahi Bumi Paguntaka tepat saat warga mulai memadati pusat-pusat keramaian. Potensi hujan ini diperkirakan terjadi dalam rentang waktu krusial, yakni mulai pukul 20.00 Wita hingga pukul 23.00 Wita.
Kepala BMKG Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, menjelaskan meski statusnya hanya hujan ringan, dampaknya tidak bisa disepelekan, terutama bagi mobilitas warga di jalan raya.
”Kondisi cuaca Tarakan di malam tahun baru nanti memang ada potensi hujan ringan. Kami mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati saat berada di luar ruangan. Kondisi aspal yang basah akan menjadi sangat licin, dan ini potensi bahayanya cukup tinggi bagi para pengendara yang sedang melintas,” ungkap Sulam dalam keterangannya, Rabu (31/12/25).
Namun, Sulam memberikan sedikit angin segar hujan ini diprediksi tidak akan merata di seluruh penjuru pulau.
“Kami akan terus pantau detailnya. Mudah-mudahan tidak mengguyur seluruh wilayah, karena biasanya hujan ringan di Tarakan itu sifatnya lokal atau hanya di sebagian wilayah saja,” tambahnya.
Kewaspadaan warga diminta tidak luntur tepat setelah kembang api usai. Memasuki bulan Januari dan Februari 2026, tantangan cuaca yang lebih serius sudah menanti. BMKG mendeteksi adanya pergerakan Monsun Asia angin musim yang membawa massa uap air dalam jumlah besar dari Benua Asia menuju wilayah Indonesia, termasuk Kaltara.
Kehadiran Monsun ini diprediksi akan meningkatkan intensitas hujan menjadi lebat dan berdurasi lama. Sulam mengingatkan kembali memori kelam pada Januari 2025, di mana curah hujan mencapai angka ekstrem sebesar 600 mm dalam satu bulan.
”Monsun Asia ini membawa uap air yang sangat banyak. Jika kita berkaca pada tahun 2025 lalu, curah hujan di Januari mencapai 600 mm, yang merupakan angka tertinggi. Jika angka ini terulang, maka risiko banjir besar dan tanah longsor di Tarakan menjadi sangat nyata,” tegasnya.
Berbeda dengan daerah lain yang memiliki sungai luas, Tarakan memiliki karakteristik banjir yang unik. Sulam menjelaskan tipografi wilayah ini membuat genangan air muncul sangat cepat meski hujan hanya turun sebentar.
”Di Tarakan, hujan dengan intensitas 20 mm saja dalam durasi setengah jam sudah cukup untuk merendam beberapa titik. Apalagi jika intensitasnya mencapai 145 mm seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Selain banjir, ancaman awan konvektif yang melepaskan energi besar juga patut diwaspadai karena bisa memicu angin kencang yang mampu merusak atap rumah hingga menumbangkan pohon,” jelas Sulam.
Tak hanya Tarakan, BMKG juga menitipkan pesan bagi warga di Kabupaten Bulungan dan Malinau. Berbeda dengan Tarakan, dua wilayah ini memiliki sungai besar yang rawan meluap akibat hujan di wilayah hulu.
Sulam mengingatkan fenomena banjir tanpa hujan, di mana cuaca di pemukiman hilir terlihat cerah, namun air sungai tiba-tiba naik drastis karena hujan deras di wilayah pedalaman (hulu) selama berhari-hari.
”Masyarakat di bantaran sungai harus siaga. Kami terus berkoordinasi dengan BPBD untuk menghitung kapan air kiriman dari hulu akan sampai ke hilir. Jika ada tanda bahaya, BPBD akan segera menginformasikan jam berapa banjir diprediksi tiba agar warga punya waktu untuk evakuasi diri,” tutupnya.(**)















Discussion about this post