TARAKAN, Fokusborneo.com – Citra Pelabuhan Tengkayu I kembali tercoreng setelah curhatan seorang backpacker mengenai perilaku buruh angkut barang viral di media sosial.
Keluhan ini rupanya hanya puncak gunung es dari tumpukan keresahan masyarakat yang sering merasa dirugikan oknum buruh di sana.
Menyikapi hal tersebut, Widia Ayu Saraswati selaku Kasi Sarana dan Prasarana Keselamatan Angkutan Perairan UPTD Pelabuhan Tengkayu I, langsung mengambil langkah tegas dengan memanggil manajemen koperasi yang menaungi para buruh.
Widia menekankan pembinaan saja tidak lagi cukup. Pihaknya mendesak koperasi untuk memberikan sanksi berat, bahkan pemecatan, jika etika kerja buruh sudah melampaui batas.
”Kami sudah panggil manajemen koperasinya. Kami minta mereka jangan lembek. Jika ada buruh yang melakukan kesalahan fatal, terutama soal etika, harus ditindak tegas sesuai bobotnya. Pihak koperasi mengaku sulit membina mereka, tapi ini tidak bisa jadi alasan terus-menerus,” ungkap Ayu
Modus yang sering dikeluhkan warga adalah angkat dulu, tanya kemudian. Banyak buruh yang langsung menyambar barang bawaan penumpang tanpa izin, lalu meminta bayaran secara paksa.
Menariknya, sebagai bentuk perlawanan terhadap praktik nakal ini, pihak UPTD mengeluarkan instruksi berani bagi para penumpang. Jika ada buruh yang mengangkut barang tanpa konfirmasi, penumpang berhak untuk tidak membayar.
”Kalau barang diangkat tanpa persetujuan, jangan dibayar. Jika merasa terintimidasi, segera lapor petugas. Jangan sampai cara-cara premanisme seperti ini dianggap normal dan berujung pada pemerasan,” tegasnya lagi.
Mengenai biaya, Ayu menjelaskan hingga saat ini tarif resmi masih dipatok sebesar Rp10.000 berdasarkan dokumen perjanjian yang berlaku. Belum ada pembaruan tarif resmi hingga saat ini.
Meski ingin menertibkan, UPTD mengakui memiliki keterbatasan wewenang karena para buruh tidak berada langsung di bawah pemerintah, melainkan di bawah naungan koperasi.
”Kami tidak bisa menindak buruh secara langsung, hanya bisa menegur koperasinya. Pada pemanggilan terakhir, kami bahkan menyarankan pemberhentian bagi oknum yang bebal. Sayangnya, oknum yang dikeluhkan kemarin ternyata masih terlihat bekerja,” tutup Widia.(*/mt)















Discussion about this post