TARAKAN, Fokusborneo.com – Musyawarah Daerah (Musda) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kota Tarakan yang digelar di Hotel Galaxy, Minggu (15/2/26), resmi melahirkan nakhoda baru.
Melalui proses pemilihan yang berlangsung ketat, dr. Muhammad Hasbi Hasyim, Sp.PD., terpilih sebagai Ketua KKSS Tarakan periode mendatang.
Pertarungan memperebutkan kursi ketua berlangsung sengit namun tetap kondusif. Dari total 26 suara sah yang masuk, dr. Hasbi Hasyim berhasil meraih 14 suara, unggul tipis atas kandidat lainnya, Drs. Tajuddin Tuwo, yang memperoleh 12 suara.
Meski sempat muncul usulan agar pemilihan dilakukan secara aklamasi melalui musyawarah mufakat, dr. Hasbi justru mendorong agar mekanisme voting tetap dijalankan sebagai sarana edukasi politik bagi warga kerukunan.
”Sebetulnya ada masukan agar (pemilihan) dimusyawarahkan saja. Tapi saya ingin kita belajar berdemokrasi. Demokrasi itu bukan untuk saling menyakiti. Alhamdulillah, usai acara saya dan Pak Tajuddin tetap berangkulan menyongsong masa depan KKSS yang lebih baik,” ujar dr. Hasbi.
Sebelumnya, Musda ini dibuka secara resmi oleh Wali Kota Tarakan, Khairul. Dalam sambutannya, Khairul menekankan bahwa KKSS bukan sekadar organisasi paguyuban, melainkan pilar strategis dalam pembangunan Kota Tarakan yang multietnis.
“Tarakan ini milik kita semua etnis ada, keberagaman ini kalau dirawat dengan baik akan jadi energi positif, bukan beban. Siapa pun yang terpilih, tugas utamanya adalah menjaga agar kita tetap rukun lintas suku,” pesan Khairul.
Ia juga berharap siapa pun yang terpilih dapat menjaga sinergi dengan pemerintah daerah dan menjaga kerukunan lintas suku di Bumi Paguntaka.
Sosok dr. Hasbi Hasyim bukanlah orang baru di Tarakan. Dokter spesialis penyakit dalam yang juga mantan Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK ini memiliki rekam jejak panjang sejak bertugas di Tarakan pada 2004.
Motivasinya maju sebagai ketua, didorong rasa empati yang ia temukan selama puluhan tahun melayani pasien.
Ia mengaku sering melihat perantau asal Sulawesi Selatan yang kesulitan ekonomi saat tertimpa musibah sakit.
”Hati saya sering teriris kalau melihat saudara perantau datang ke RS dalam kondisi sakit, tapi tidak punya biaya dan tidak ada yang memperhatikan. Saya merasa berdosa kalau tidak bergerak. Kalau bukan sekarang saya mengabdi di kerukunan, kapan lagi?” ungkap dr. Hasbi.
Ia pun memiliki rencana konkret untuk menghidupkan kas iuran anggota guna membantu warga yang kesulitan ekonomi.
”Mau Rp10 ribu atau Rp20 ribu tidak masalah, yang penting rutin. Uang itu bukan untuk foya-foya, tapi untuk saudara kita yang butuh biaya berobat atau tertimpa musibah. KKSS harus jadi rumah yang hangat bagi mereka,” tambahnya.
Sebagai langkah awal, dr. Hasbi akan segera membentuk tim kepengurusan yang inklusif. Ia berjanji akan merangkul seluruh pilar, badan otonom perempuan, hingga unsur pemuda di bawah naungan KKSS.
Satu hal yang ditegaskan dr. Hasbi adalah komitmen untuk menjauhkan organisasi dari politik praktis.
“Silakan anggota berpolitik, itu hak masing-masing. Tapi organisasi jangan dibawa. Itu yang sering menimbulkan gesekan dan membuat kita tidak solid,” tegas.
Dengan terpilihnya dr. Hasbi Hasyim, KKSS Tarakan diharapkan mampu bertransformasi menjadi wadah yang tidak hanya kuat secara silaturahmi, tetapi juga hadir secara nyata dalam aksi-aksi sosial kemasyarakatan di Kota Tarakan.(*/mt)














Discussion about this post