TARAKAN – Kerusakan fasilitas Moveable Bridge (MB) atau jembatan gerak di Pelabuhan Penyeberangan Tarakan berdampak pada operasional jadwal Kapal Feri. Hal tersebut diungkapkan Kepala Perwakilan ASDP Tarakan (Kantor Cabang Balikpapan), Abd. Gafur kepada Fokusborneo.com, Kamis (2/4/2026).
Menurut Gafur, dampak yang paling dirasakan oleh masyarakat adalah ketidakpastian waktu embarkasi. Pengguna jasa yang seharusnya bisa segera berangkat atau pulang terpaksa tertahan di pelabuhan karena posisi MB tidak dapat digerakkan secara fleksibel mengikuti tinggi rendahnya kapal.
”Sangat mengganggu ya. Pengguna jasa yang tadinya sudah mau sampai rumah, jadi harus menunggu lama. Karena kapal tidak bisa embarkasi, kita terpaksa harus menyesuaikan dengan pasang surut air laut secara alami,” ujar Abd. Gafur.
Akibat kerusakan ini, jadwal keberangkatan tiga armada ASDP yakni KMP Manta, KMP Julung-Julung, dan KMP Manta II kini tidak lagi berdasarkan jam operasional normal, melainkan bergantung penuh pada kondisi alam.
Gafur menjelaskan, proses bongkar muat baru bisa dilakukan saat air pasang berada di posisi minimal 1,7 hingga 1,9 meter. Jika air surut hingga ke posisi 1,2 meter, jembatan tersebut praktis “tenggelam” dan tidak bisa digunakan.
”Kami tidak bisa memastikan jam keberangkatan secara pasti sekarang. Kita sesuaikan terus dengan pasang surut. Kalau air pasang lebih cepat, kita buat pengumuman pemuatan dipercepat. Kalau pasang terlambat, ya jadwal harus mundur,” terangnya.
Kondisi kerusakan MB ini dilaporkan sudah terjadi cukup lama. Gafur menyebut fasilitas tersebut sempat mengalami kendala sejak bulan puasa ke 18 menjelang arus mudik lebaran tahun ini.
Meski kewenangan perbaikan berada di tangan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tarakan selaku otoritas pelabuhan, pihak ASDP mengaku telah berkomunikasi langsung dan menawarkan bantuan teknis.
“Kami dari ASDP siap mendukung penuh. Saya sudah bicara dengan pihak terkait, kalau memang mereka butuh tenaga ahli atau teknisi, bersurat saja kepada kami, nanti kami kirimkan teknisinya untuk membantu perbaikan MB tersebut,” tegas Gafur.
Selain mengangkut orang dan kendaraan armada ASDP juga mengangkut logistik ke daerah pedalaman, sejauh ini, operasional logistik masih berjalan meski mengalami keterlambatan. ASDP saat ini juga tengah melayani pengangkutan beras Bulog sebanyak 2 hingga 3 truk setiap minggunya untuk didistribusikan ke wilayah pedalaman seperti Sebawang dan Sebuku (Nunukan).
Berikut adalah detail kapasitas armada yang terdampak penyesuaian jadwal tersebut:
KMP Manta Tarakan – Sebawang dengan kapasitas 20 unit kendaraan roda empat dan 40 motor.
KMP Julung-Julung melayani lintas provinsi Tarakan – Toli-Toli dengan kapasitas 14 unit kendaraan dan 171 penumpang.
KMP Manta II melayani rute Tarakan – Nunukan (Perintis), Nunukan – Sebatik hingga Simenggaris dengan kapasitas 14 unit kendaraan roda empat.
ASDP berharap pihak UPTD Pelabuhan maupun Dinas Perhubungan dapat segera melakukan langkah teknis yang konkret agar pelayanan transportasi laut di Kalimantan Utara kembali normal. (**)














Discussion about this post