TANJUNG SELOR, Fokusborneo.com – Kondisi perairan di area kedatangan Pelabuhan Kayan II, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, semakin dangkal akibat sedimentasi. Dinas Perhubungan (Dishub) Bulungan pun menyiapkan penanganan sementara dengan menyedot pasir yang menumpuk di sekitar dermaga.
Kepala Dishub Bulungan, Khairul, mengatakan penyedotan ditargetkan dilakukan pekan ini. Penanganan tersebut menjadi langkah cepat untuk menjaga aktivitas transportasi di Pelabuhan Kayan II tetap berjalan, sembari pemerintah menyiapkan solusi jangka panjang.
“Untuk penanganan jangka pendek, kita akan bekerja sama dengan Gapasdap Bulungan, pengusaha sedot pasir dan Polairud Polresta Bulungan untuk mengurangi sedimentasi di area dermaga kedatangan,” kata Khairul, Selasa (25/8/2026).
Ia menegaskan, pekerjaan yang dilakukan saat ini belum masuk tahap pengerukan. Pasir yang mengalami penumpukan akan disedot menggunakan peralatan yang tersedia.
“Untuk jangka pendek kita belum melakukan pengerukan, hanya penyedotan pasir di area dermaga kedatangan Pelabuhan Kayan II,” ujarnya.
Menurut Khairul, penanganan tersebut harus segera dilakukan lantaran kedalaman perairan di kawasan dermaga semakin terbatas. Saat pasang, kedalaman air disebut hanya sekitar empat meter, sedangkan ketika surut pasir mulai terlihat di permukaan.
“Rencananya penyedotan akan dilakukan pada pekan ini sesuai arahan Sekda Bulungan karena kondisinya sudah sangat mendesak. Kedalaman air saat pasang hanya sekitar 4 meter, kalau surut pasirnya kelihatan,” jelasnya.
Dishub Bulungan memilih penyedotan sebagai solusi sementara karena metode tersebut pernah diterapkan sebelumnya. Namun, sedimentasi kembali terjadi setelah beberapa waktu.
Khairul memperkirakan hasil penyedotan kali ini dapat membantu menjaga kondisi dermaga hingga sekitar satu tahun. Selama periode tersebut, pemantauan tetap dilakukan untuk melihat perkembangan sedimentasi.
“Langkah penyedotan ini diperkirakan efektif bertahan sekitar satu tahun karena sebelumnya sudah pernah dilakukan penyedotan,” ungkapnya.
Faktor musim kemarau juga menjadi perhatian. Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi perubahan kondisi perairan dan mempercepat munculnya sedimentasi di sekitar dermaga.
“Salah satu yang memengaruhi pendangkalan saat ini adalah musim kemarau,” katanya.
Untuk solusi yang lebih permanen, Dishub Bulungan menyiapkan rencana pengerukan menggunakan excavator amfibi. Material yang diangkat nantinya akan ditempatkan di daratan agar tidak kembali masuk ke alur sungai.
“Untuk langkah jangka panjang atau permanen, metodenya berbeda, yakni pengerukan menggunakan excavator amfibi. Hasil pengerukan nantinya dibuang ke darat, bukan ke sungai,” terang Khairul.
Selain pengerukan, pemerintah juga mempertimbangkan penambahan panjang trestle sebagai alternatif untuk menyesuaikan akses dermaga dengan kondisi perairan. Namun, realisasinya masih menunggu kajian teknis dan perhitungan kebutuhan anggaran.
“Untuk kebutuhan anggaran jangka panjang kami belum mengetahui secara pasti karena harus dihitung oleh konsultan,” tuturnya.
Dishub Bulungan menargetkan solusi permanen tersebut dapat mulai direalisasikan tahun depan. Untuk saat ini, penyedotan pasir menjadi prioritas agar kondisi dermaga tetap mendukung aktivitas transportasi masyarakat.
“Rencananya penanganan jangka panjang dilakukan tahun depan, sedangkan untuk sekarang kita fokus menangani kondisi yang sudah mendesak ini,” pungkasnya.(**)















Discussion about this post