TANA TIDUNG, Fokusborneo.com – Guru pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kabupaten Tana Tidung akan mendapatkan pelatihan pendidikan perubahan iklim melalui kerja sama dengan SEAMEO CECCEP dan Koalisi Nasional PAUD HI. Program ini diarahkan untuk membekali pendidik dalam mengenalkan persoalan lingkungan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana kepada anak sejak usia dini.
Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan manifesto dukungan terhadap gerakan Act for Early Years dan pendidikan perubahan iklim di Jakarta. Penandatanganan dilakukan Bunda PAUD Tana Tidung, Vamelia Ibrahim, bersama Direktur SEAMEO CECCEP Prof. Vina Adriany, M.Ed., Ph.D., serta Ketua Koalisi Nasional PAUD HI Dr. Irma Yuliantina, M.Pd.
Tana Tidung tercatat sebagai daerah pertama di Indonesia yang menjalin kerja sama dengan kedua lembaga tersebut dalam pengembangan pendidikan perubahan iklim bagi guru PAUD.
Vamelia Ibrahim mengatakan, kerja sama ini menjadi langkah untuk mempersiapkan tenaga pendidik agar mampu mengenalkan pendidikan perubahan iklim melalui pembelajaran sesuai usia anak.
“Guru-guru PAUD perlu dibekali pemahaman tentang perubahan iklim agar bisa mengenalkannya kepada anak sejak dini. Anak-anak perlu memahami pentingnya menjaga lingkungan melalui pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi lingkungan di daerah juga menjadi salah satu alasan pentingnya pengenalan pendidikan perubahan iklim. Anak-anak berisiko terdampak berbagai persoalan lingkungan, termasuk kabut asap akibat kebakaran lahan yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas belajar.
“Tana Tidung juga menghadapi risiko lingkungan, termasuk kabut asap akibat kebakaran lahan. Dampaknya bisa mengganggu kesehatan dan aktivitas anak, sehingga pemahaman tentang lingkungan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu ditanamkan sejak dini,” katanya.
Sebagai tindak lanjut kerja sama, pelatihan bagi guru PAUD disiapkan untuk meningkatkan kemampuan pendidik dalam menyampaikan materi perubahan iklim. Pembelajaran mencakup pengenalan ekosistem, kebiasaan menjaga lingkungan, serta langkah sederhana menghadapi kondisi darurat.
Vamelia menjelaskan, materi pendidikan perubahan iklim perlu disampaikan dengan metode yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Dengan pendekatan tersebut, anak dapat mengenal persoalan lingkungan melalui kegiatan belajar yang mudah dipahami.
“Guru perlu mendapatkan pembekalan agar bisa menyampaikan materi perubahan iklim dengan cara yang mudah dipahami anak. Pembelajarannya disesuaikan dengan usia mereka, mulai dari mengenal alam, menjaga lingkungan, sampai memahami langkah sederhana ketika menghadapi kondisi darurat,” jelasnya.
Pelaksanaan program juga direncanakan melibatkan lintas sektor, termasuk layanan kesehatan melalui Posyandu dan Dinas Lingkungan Hidup. Keterlibatan berbagai pihak diperlukan untuk menghubungkan pendidikan lingkungan dengan kesehatan serta perlindungan anak di luar sekolah.
“Setelah penandatanganan manifesto ini, tindak lanjutnya melalui pelatihan bagi guru PAUD. Pelaksanaannya juga membutuhkan keterlibatan berbagai sektor, termasuk layanan kesehatan dan lingkungan hidup, agar upaya melindungi anak dapat berjalan secara menyeluruh,” tutupnya. (*)















Discussion about this post