TARAKAN, Fokusborneo.com – Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Tarakan (AMRT) menggelar aksi demonstrasi di Gedung DPRD Kota Tarakan, Rabu (28/10/26).
Aksi ini digerakkan oleh akumulasi kemarahan publik terhadap berbagai persoalan daerah yang dinilai lambat ditangani oleh pemerintah.
Massa bergerak dari titik kumpul awal di Grand Tarakan Mall (GTM) pukul 15.00 Wita. Setelah melakukan konsolidasi internal, gelombang pengunjuk rasa bergeser ke kantor legislatif pada pukul 17.00 Wita untuk menyampaikan tuntutan secara langsung kepada para wakil rakyat.
Koordinator Lapangan AMRT, Muammar Islamuddin, menegaskan kehadiran mereka merupakan representasi jeritan masyarakat bawah yang menuntut pertanggungjawaban nyata dari negara.
”Kami hadir membawa aspirasi masyarakat. Ada enam tuntutan yang kami sampaikan kepada pemerintah melalui DPRD Kota Tarakan,” ujar Muammar saat berorasi di lokasi.
Enam tuntutan utama yang disuarakan meliputi diantaranya mendesak penetapan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional., menuntut penghentian segala bentuk kriminalisasi terhadap aktivis.
Meminta peningkatan kuota penerima Beasiswa Kaltara Unggul, Mendesak percepatan perbaikan infrastruktur jalan rusak.
Selain itu, menuntut solusi permanen atas krisis air bersih yang terus berulang di Tarakan. Serta mendesak pencopotan pihak yang mereka sebut sebagai “Jenderal Tidur” di kawasan Ladang dan Sebengkok.
Muammar menekankan masalah lingkungan seperti karhutla dan buruknya layanan dasar air bersih sudah sangat membebani keseharian warga. Pihaknya menolak jika aksi ini hanya menjadi agenda seremonial belaka.
“Kami ingin pemerintah benar-benar mendengar suara masyarakat dan memberikan langkah konkret terhadap persoalan yang ada,” tegas Muammar.
Massa secara bergantian menyampaikan orasi di depan gedung dewan di tengah pengawalan ketat aparat kepolisian yang berjaga hingga aksi unjuk rasa tersebut berlangsung.(**)













Discussion about this post