TARAKAN, Fokusborneo.com – Perekonomian Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) berada dalam sorotan di tengah tantangan ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global.
Meskipun demikian, Kaltara memiliki potensi besar untuk tumbuh lebih tinggi dari rata-rata nasional, utamanya melalui percepatan proyek Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) yang berfokus pada hilirisasi.
Hal ini disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, dalam forum “Benuanta Investment and Economic Summit” yang digelar di Hotel Tarakan Plaza, Jumat (21/11/25).
Acara ini mempertemukan pemerintah daerah, pelaku usaha, investor, dan mitra internasional untuk mendorong investasi berkelanjutan di Kaltara.
Hasiando Ginsar Manik menyoroti proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2025 menunjukkan perlambatan, turun dari 7,3 persen menjadi 3,1 persen. Faktor seperti ketidakpastian global, temporary government shutdown di Amerika Serikat, serta dinamika geopolitik antara AS dan Tiongkok, menyebabkan potensi permintaan ekspor produk Kaltara menghadapi tantangan.
”Ketidakpastian global ini mengindikasikan bahwa tantangan kita, khususnya dari sisi eksternal, itu cukup menantang,” jelas Hasiando.
Di tingkat nasional, Indonesia masih menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan ekonomi Triwulan III 2025 sebesar 5,04 persen. Namun, Kaltara yang ekonominya tumbuh 4,61 persen di tahun 2023 (sedikit meningkat dari 4,54 persen), berada di urutan ke-25 dari 39 provinsi dan masih di bawah pertumbuhan ekonomi nasional.
Hasiando memaparkan, secara struktural, perekonomian Kaltara sangat bergantung pada investasi (PMTB 30,19%) dan net ekspor (45%). Namun, ketergantungan ini masih dihadapkan pada beberapa tantangan:
• Inefisiensi Investasi (ICOR Menanjak): Rasio Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Kaltara cenderung meningkat, yang dalam teori ekonomi mengindikasikan adanya inefisiensi. Hal ini disebabkan investasi yang masuk masih banyak didominasi oleh sektor tambang.
• Ketergantungan Ekspor Komoditas: Sekitar 80 persen ekspor Kaltara didominasi oleh batu bara. Dengan tren transisi energi dan penurunan permintaan global terhadap batu bara, Kaltara harus mencari sumber ekonomi baru.
• Kendala Infrastruktur dan Regulasi: Berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), masalah utama investasi di Kaltara adalah infrastruktur fisik serta perizinan dan regulasi.
”Jika kita mengandalkan pertambangan terus-menerus, kita tidak akan bisa tumbuh lebih tinggi dari saat ini. Kita harus mencari sumber ekonomi baru,” tegasnya.
Titik terang dan harapan Kaltara untuk keluar dari ketergantungan komoditas adalah pengembangan Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI). Proyek smelter pengolahan aluminium di KIPI saat ini sedang dalam proses commissioning dan dijadwalkan mulai berproduksi pada awal tahun depan.
Hasiando menekankan hilirisasi merupakan pengungkit ekonomi masa depan Kaltara. Pengolahan bauksit menjadi aluminium dapat meningkatkan nilai tambah hingga 8 kali lipat, dan dari aluminium menjadi produk hilir lainnya bisa mencapai 15 kali lipat.
”Kami berharap ekonomi Kaltara tahun depan akan jauh lebih tinggi seiring dengan berproduksinya aluminium yang ada di kawasan kita. Ini sangat menjanjikan, karena global terhadap berbagai kebutuhan termasuk aluminium itu sangat menjanjikan,” pungkas Hasiando Ginsar Manik.(*/mt)















Discussion about this post