BALIKPAPAN, Fokusborneo.com – Perkembangan inflasi di Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada Januari 2026 menunjukkan tren yang melandai dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini sejalan dengan normalisasi permintaan dan mobilitas masyarakat pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru 2025–2026, serta terjaganya pasokan sejumlah komoditas pangan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menyampaikan bahwa pada Januari 2026 Kota Balikpapan mencatatkan deflasi sebesar 0,11 persen (mtm), sementara Kabupaten PPU mengalami inflasi sebesar 0,05 persen (mtm).
“Secara tahunan, inflasi Kota Balikpapan tercatat sebesar 3,26 persen (yoy) dan Kabupaten PPU sebesar 2,75 persen (yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur yang mencapai 3,76 persen (yoy), serta inflasi nasional sebesar 3,55 persen (yoy),” ujar Robi Ariadi.
Robi menambahkan, capaian inflasi di kedua daerah tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional tahun 2026 sebesar 2,5 persen ±1 persen.
Di Kota Balikpapan, deflasi terutama bersumber dari Kelompok Transportasi dengan andil sebesar -0,28 persen (mtm). Lima komoditas utama penyumbang deflasi terdalam meliputi angkutan udara, bensin, cabai rawit, Sekolah Menengah Atas (SMA), dan cabai merah.
Penurunan tarif angkutan udara didorong oleh kembali normalnya mobilitas masyarakat pasca puncak libur Nataru. Sementara itu, harga bensin menurun seiring kebijakan penurunan harga Pertamax sebesar Rp400 per liter yang berlaku sejak 1 Januari 2026. Penurunan harga cabai didukung oleh meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi yang mulai memasuki masa panen, sedangkan turunnya tarif SMA dipengaruhi implementasi Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BSOP).
Di sisi lain, inflasi di Kota Balikpapan didorong oleh Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan andil 0,18 persen (mtm). Komoditas penyumbang inflasi tertinggi antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, bahan bakar rumah tangga, baju muslim anak, dan mobil.
Sementara itu, inflasi di Kabupaten PPU terutama bersumber dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil inflasi 0,05 persen (mtm). Komoditas utama penyumbang inflasi meliputi ikan tongkol, tomat, daging ayam ras, kayu balokan, dan emas perhiasan.
Penyumbang deflasi terbesar di Kabupaten PPU berasal dari Kelompok Transportasi dengan andil deflasi 0,05 persen (mtm), terutama dipengaruhi oleh penurunan harga cabai merah, cabai rawit, buncis, bawang merah, dan jagung manis akibat meningkatnya pasokan dari daerah produksi dan produksi lokal.
Ke depan, Bank Indonesia mencermati sejumlah risiko yang berpotensi memengaruhi tekanan inflasi, antara lain prakiraan puncak musim hujan, gelombang laut tinggi, serta potensi banjir di daerah sentra produksi. Selain itu, masuknya periode Ramadan dan HBKN Idulfitri 2026 berpotensi mendorong peningkatan permintaan masyarakat.
Meski demikian, optimisme konsumen tetap terjaga. Survei Konsumen Bank Indonesia Balikpapan pada Januari 2026 mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 129,3, meningkat dibandingkan Desember 2025 sebesar 122,7.
“Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui TPID akan terus bersinergi dalam pengendalian inflasi daerah, antara lain melalui pemantauan harga, penguatan kerja sama antar daerah, gelar pangan murah, operasi pasar, serta optimalisasi program GNPIP,” tegas Robi Ariadi.
Bank Indonesia optimistis, melalui sinergi lintas pihak dan implementasi roadmap pengendalian inflasi daerah 2025–2027, inflasi di wilayah kerja KPwBI Balikpapan dapat tetap terjaga dalam sasaran nasional.(**)















Discussion about this post