TARAKAN, Fokusborneo.com – Ketegangan geopolitik global menjadi tantangan baru bagi stabilitas ekonomi daerah.
Meski demikian, Bank Indonesia (BI) Kalimantan Utara (Kaltara) menegaskan fundamental ekonomi Bumi Benuanta masih cukup tangguh untuk menghadapi dinamika eksternal tersebut.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, menyatakan pihaknya saat ini tengah mengukur dampak rambatan dari konstelasi geopolitik global terhadap ekonomi lokal.
Mengingat data pertumbuhan ekonomi dirilis secara berkala BPS setiap tiga bulan, BI memerlukan waktu untuk melakukan analisis mendalam.
Hasiando tidak menampik adanya risiko, terutama pada komoditas andalan Kaltara. Sebelum isu geopolitik ini mencuat, sektor batubara sudah mengalami tekanan akibat penurunan permintaan (demand) global.
”Batubara adalah salah satu komponen besar ekspor kita. Jika permintaannya terus menurun, tentu akan menekan pertumbuhan ekonomi. Kami sedang mengkaji lebih dalam dampak sektor eksternal ini terhadap komoditas ekspor lainnya,” ujar Hasiando.
Meski begitu, BI belum mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi Kaltara secara keseluruhan karena menganggap kekuatan domestik masih mampu menahan guncangan.
Optimisme BI didorong progres signifikan di Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI), khususnya proyek pengolahan bauksit menjadi aluminium PT Kalimantan Aluminium Indonesia (KAI). Sektor ini diprediksi menjadi game changer yang mampu mengompensasi risiko sektor eksternal.
”Tahun ini (2026), prosesnya sudah masuk tahap commissioning atau uji coba produksi, setelah sebelumnya berada di tahap konstruksi. Hilirisasi ini memberikan nilai tambah yang sangat besar. Jika produksi aluminium ini berjalan stabil, dampaknya bisa menopang pertumbuhan kita meskipun ada tekanan di sektor lain,” jelasnya.
Selain fokus pada angka pertumbuhan, Hasiando menekankan pentingnya kualitas pertumbuhan tersebut melalui penyerapan tenaga kerja. Ia mengingatkan agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton di tengah masifnya industrialisasi.
Hasiando mendorong penguatan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk meningkatkan skill masyarakat Kaltara agar sesuai dengan kualifikasi industri.
”Jangan sampai kita terlambat. Saat industri sudah berjalan penuh, kualifikasi yang dibutuhkan akan semakin tinggi. Kita harus mendorong agar di semua tahapan, masyarakat Kaltara bisa berpartisipasi aktif,” tegasnya.
Di sisi lain, penguatan sektor UMKM dan permintaan domestik antar daerah terus dipacu. BI berkomitmen menjalankan program ekstra untuk mendorong ekspor produk lokal dan memastikan perputaran ekonomi di tingkat masyarakat tetap terjaga.
Dengan kombinasi antara hilirisasi industri yang kuat dan kesiapan tenaga kerja lokal, ekonomi Kaltara diharapkan tetap mampu tumbuh positif melampaui capaian tahun 2025, sekaligus menjadi benteng pertahanan dari ketidakpastian global.(*/mt)















Discussion about this post