TARAKAN, Fokusborneo.com – Dunia kini tengah menatap Indonesia sebagai episentrum baru ekonomi syariah.
Mengutip sambutan dari Pimpinan KPwBI Kaltara Hasiando Ginsar Manik, pada gelaran Kaltara Sharia Festival (KaShaFa) 2026, data State of the Global Islamic Economy (SGIE) Indicator 2024/2025, Indonesia kini kokoh menempati peringkat ke-3 di dunia. Posisi ini menegaskan transformasi besar kita bukan lagi sekadar pasar konsumsi, melainkan pemain utama penyuplai kebutuhan halal global.
Kekuatan ini tercermin dari pertumbuhan sektor unggulan Halal Value Chain (HVC) nasional yang melonjak tajam sebesar 6,21% (yoy) pada tahun 2025, menyumbang lebih dari 27% terhadap PDB nasional.
Ketangguhan ini kian nyata di sektor ekspor makanan-minuman halal yang mencetak surplus perdagangan hingga 27,16 miliar USD. Angka-angka fantastis ini mengonfirmasi bahwa ekonomi syariah adalah sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berdaya tahan. Namun, kejayaan di level nasional harus mampu membumi hingga ke daerah.
Di sinilah peran strategis Bank Indonesia Kalimantan Utara melalui gelaran Kaltara Sharia Festival (KaShaFa) 2026 menjadi sangat krusial, memastikan bahwa arus besar ekonomi syariah dunia juga mengalir deras ke Kaltara.
UMKM Tarakan: Ujung Tombak Halal Value Chain
Dimulainya rangkaian Road to KaShaFa pada 1 Maret 2026 dengan tema “Berkah Ramadhan sebagai Penggerak Perekonomian Masyarakat” adalah langkah konkret membawa semangat State of the Global Islamic Economy (SGIE) ke level lokal. Bazar UMKM Halal yang melibatkan 42 pelaku usaha di Tarakan bukan sekadar pameran musiman, melainkan upaya memperkuat rantai nilai halal daerah dengan target transaksi mencapai Rp 3 miliar.
Bagi para pelaku UMKM di Tarakan, ajang ini memberikan dampak transformasi yang spesifik:
Akselerasi Digitalisasi: Kewajiban
Penggunaan QRIS memaksa UMKM “naik kelas” secara administratif, menciptakan rekam jejak keuangan yang rapi agar mereka dinilai layak dan memenuhi persyaratan bank untuk mendapatkan akses layanan keuangan (bankable).
Standardisasi Kualitas: Melalui edukasi
Sertifikasi produk dan juru sembelih halal, produk lokal Tarakan kini memiliki “paspor” untuk bersaing di pasar yang lebih luas, sesuai standar global yang diharapkan.
Likuiditas Usaha: Kolaborasi dengan BAZNAS
Penetapan harga yang kompetitif meningkatkan perputaran stok barang (inventory turnover), menjaga napas ekonomi UMKM di tengah tingginya permintaan Ramadhan.
Inovasi Wakaf dan Ketahanan Pangan
Selaras dengan semangat kemandirian ekonomi, peluncuran Program Wakaf Produktif di kawasan Islamic Center Kota Tarakan menjadi terobosan penting. Pemanfaatan ekosistem masjid untuk ketahanan pangan dan ekowisata adalah wujud nyata asas tolong-menolong. Ini membuktikan bahwa modal sosial umat bisa dikelola secara profesional untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif.
Literasi di Zaman Bising
Membangun ekonomi syariah juga berarti membangun literasi. Pendekatan budaya melalui lomba-lomba islami hingga kajian bersama Ustadz Hanan Attaki, di mana pendaftarannya pun menggunakan QRIS, menunjukkan betapa adaptifnya sistem ini. Masyarakat, khususnya kaum hawa di Kaltara, kini kian akrab dengan ekosistem digital berbasis syariah.
Menuju Puncak KaShaFa 2026
Keberhasilan Indonesia di peringkat 3 dunia tidak akan berarti banyak tanpa penguatan di tingkat daerah seperti yang dilakukan di Kaltara. Road to KaShaFa adalah pembuka menuju puncak acara April mendatang, sekaligus bukti bahwa Kalimantan Utara siap berkontribusi pada surplus halal nasional.
Kita berharap, momentum ini menjadikan ekonomi syariah bukan sekadar tren saat Ramadhan, melainkan gaya hidup ekonomi yang transparan, profesional, dan penuh berkah bagi seluruh masyarakat Borneo Utara.
Oleh:
Dr. Ana Sriekaningsih.,S.E.,S.Th.,M.M
Direktur Politeknik Bisnis Kaltara
Anggota Forum Komunikasi Akademisi Penulis Populer Kebijakan BI














Discussion about this post