TARAKAN, Fokusborneo.com – Indonesia telah menetapkan visi besar untuk menjadi negara maju pada tahun 2045, tepat satu abad setelah kemerdekaan. Visi tersebut dikenal sebagai Indonesia Emas 2045, sebuah cita-cita yang menempatkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi dunia dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang tinggi, daya saing global yang kuat, serta pembangunan yang berkelanjutan.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan sinergi yang erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya melalui pendekatan yang kini dikenal sebagai Indonesia Incorporated. Konsep Indonesia Incorporated menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen bangsa dalam mencapai tujuan pembangunan nasional.
Dalam konteks ini, dunia usaha memegang peran yang sangat strategis sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi, pencipta lapangan kerja, sumber investasi, sekaligus penggerak inovasi. Keberhasilan Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan tidak dapat dilepaskan dari kontribusi sektor swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Salah satu kontribusi utama dunia usaha adalah dalam menciptakan lapangan kerja yang produktif. Indonesia diproyeksikan menikmati bonus demografi hingga beberapa dekade ke depan. Kondisi ini merupakan peluang besar sekaligus tantangan yang harus dikelola dengan baik.
Tanpa penciptaan lapangan kerja yang memadai, bonus demografi justru dapat berubah menjadi beban sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, sektor usaha perlu terus memperluas investasi dan aktivitas produksinya agar mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Di sisi lain, penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi agenda yang tidak kalah penting. UMKM selama ini terbukti menjadi tulang punggung perekonomian nasional dengan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja.
Namun demikian, tantangan terkait akses pasar, teknologi, pembiayaan, dan kapasitas manajerial masih menjadi hambatan utama. Melalui konsep Indonesia Incorporated, perusahaan besar dapat berperan sebagai mitra strategis UMKM melalui integrasi dalam rantai pasok nasional maupun global. Kemitraan yang sehat akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan mengurangi kesenjangan antarpelaku ekonomi.
Peran penting lainnya terletak pada percepatan hilirisasi dan transformasi industri. Selama bertahun-tahun, struktur ekonomi Indonesia masih didominasi oleh ekspor komoditas mentah dengan nilai tambah yang relatif rendah. Padahal, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia seharusnya menjadi modal untuk mengembangkan industri pengolahan yang menghasilkan nilai tambah lebih besar.
Hilirisasi tidak hanya meningkatkan penerimaan negara dan ekspor, tetapi juga menciptakan lapangan kerja berkualitas serta memperkuat daya saing industri nasional.
Bagi daerah kaya sumber daya seperti Kalimantan Utara, hilirisasi memiliki arti yang sangat penting. Potensi sektor pertambangan, perkebunan, perikanan, serta energi baru dan terbarukan perlu didorong agar tidak berhenti pada aktivitas produksi bahan mentah.
Investasi pada sektor pengolahan dan manufaktur akan memberikan efek pengganda ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat lokal serta memperkuat struktur ekonomi daerah.
Di tengah dinamika ekonomi global, dunia usaha juga dituntut untuk mengadopsi prinsip keberlanjutan melalui penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan lingkungan dan kesejahteraan sosial.
Justru sebaliknya, perusahaan yang mampu mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik akan memiliki daya tahan yang lebih kuat dalam menghadapi perubahan pasar global.
Kalimantan Utara sebagai provinsi yang memiliki kekayaan hutan tropis, keanekaragaman hayati, dan potensi energi hijau memiliki peluang besar untuk menjadi contoh pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Dunia usaha perlu mengambil peran aktif dalam mendukung ekonomi hijau, efisiensi energi, pengurangan emisi karbon, serta perlindungan sumber daya alam sebagai bagian dari investasi jangka panjang.
Selain itu, peningkatan daya saing global menjadi agenda yang tidak dapat diabaikan. Persaingan ekonomi internasional semakin ketat, sehingga dunia usaha Indonesia harus mampu meningkatkan produktivitas, kualitas produk, inovasi, dan efisiensi operasional.
Dukungan terhadap berbagai agenda strategis nasional, termasuk harmonisasi regulasi dan peningkatan standar internasional, akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global. Dunia usaha yang kompetitif akan menjadi fondasi penting bagi transformasi ekonomi nasional menuju negara maju.
Peran dunia usaha juga terlihat melalui investasi pada sektor-sektor prioritas yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Program pembangunan perumahan rakyat, penguatan ketahanan pangan, pengembangan sektor kesehatan, kedaulatan energi, serta pembangunan kawasan pesisir dan perikanan memerlukan keterlibatan aktif sektor swasta. Kemitraan pemerintah dan dunia usaha menjadi instrumen penting untuk mempercepat penyediaan infrastruktur dan layanan publik yang berkualitas.
Pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 bukanlah tujuan yang dapat dicapai oleh pemerintah semata. Visi besar tersebut membutuhkan komitmen kolektif seluruh komponen bangsa. Dunia usaha memiliki posisi sentral sebagai penggerak investasi, inovasi, produktivitas, dan pencipta kesejahteraan masyarakat.
Melalui semangat Indonesia Incorporated, kolaborasi yang erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat akan menciptakan fondasi yang kokoh bagi terwujudnya Indonesia yang maju, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan pada tahun 2045.
Bagi ISEI Kalimantan Utara, momentum ini menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi daerah dan nasional harus berjalan seiring. Dunia usaha tidak hanya dituntut mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga berperan sebagai agen pembangunan yang menciptakan nilai tambah, memperkuat ketahanan ekonomi, dan memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian, Indonesia Emas 2045 bukan sekadar cita-cita, melainkan target yang realistis untuk diwujudkan bersama.
Oleh: Dr. Shalahuddin Pengurus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Provinsi Kalimantan Utara














Discussion about this post