TARAKAN – PT Pertamina Patra Niaga melalui Sales Branch Manager Kaltimut V Fuel, Muhammad Naufal Atiyah, memastikan ketersediaan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) dalam kondisi aman. Meski dinamika pasar global berpengaruh pada harga BBM non-subsidi, hingga saat ini belum ada arahan terkait perubahan harga di tingkat daerah, baik untuk jenis subsidi maupun non-subsidi.
Naufal menjelaskan bahwa ketahanan stok BBM untuk satu bulan ke depan dipastikan mencukupi, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama bulan Ramadan dan Idul Fitri 1447H. Pertamina juga telah menjadwalkan suplai tambahan melalui kapal tanker untuk memperkuat cadangan di Fuel Terminal.
“Seluruh lembaga penyalur, mulai dari SPBU hingga Pertashop di wilayah Kaltara, kami maksimalkan alokasinya agar tetap aman dan tidak terjadi kekosongan,” ujar Naufal.
Terkait distribusi ke daerah terpencil seperti Nunukan dan Malinau yang menggunakan kapal SPOB, Pertamina terus melakukan upaya maksimal meskipun menghadapi tantangan teknis seperti proses docking kapal dan jarak tempuh yang jauh.
Fuel Terminal Manager Tarakan dalam paparannya yang disampaikan oleh Andrianus Toban saat pertemuan dengan Komisi III DPRD Kaltara Rabu (4/3/2026) mengatakan, “Saat ini, kapal tanker Trans Taurus sedang melakukan proses bongkar muat dengan total volume mencapai 5.500 KL yang diestimasi selesai pada sore hari ini”.
Segera, setelah Trans Taurus selesai, kapal Mutiara Global dijadwalkan akan sandar untuk membongkar muatan bahan bakar dengan rincian sebagai berikut, Pertalite 1.500 KL, Pertamax 500 KL, Biosolar 4.000 KL.
Dengan masuknya muatan baru tersebut, tingkat ketahanan stok atau coverage day untuk beberapa jenis BBM dilaporkan cukup aman, Pertamax memiliki ketahanan hingga 25 hari ke depan.
“Pertalite stok saat ini mencukupi untuk 6 hari, namun dipastikan aman karena terdapat kapal suplai Sultan Abdul Rahman yang membawa 2.000 KL Pertalite dan dijadwalkan tiba pada 8 Maret mendatang,” sambungnya.
Selanjutnya, stok Biosolar menjadi salah satu yang paling stabil dengan volume tambahan mencapai 4.300 KL. Solar B30 (Khusus Alutsista) berada dalam posisi aman dengan ketahanan 24 hari. Lalu Avtur mencatatkan ketahanan paling tinggi, yakni 38 hari, setelah menyelesaikan bongkar muat sebesar 1.500 KL kemarin.
Pertamina, menambahkan bahwa rata-rata penyerapan BBM di area Tarakan berada di angka 1.400 KL per hari. Meskipun terdapat jeda dalam pengiriman jalur laut, koordinasi antara kapal yang sedang bongkar dan kapal yang dalam perjalanan (incoming) memastikan distribusi ke masyarakat tidak akan terganggu. (ary)
Mengenai sejumlah APMS atau SPBB yang tidak beroperasi, pihak Pertamina menyebutkan hal tersebut umumnya terkendala masalah izin operasional atau administrasi. Pertamina menyatakan kesiapan untuk melakukan pemetaan ulang (mapping) dan membantu koordinasi administrasi bagi mitra yang ingin mengaktifkan kembali layanannya guna memperkuat cadangan stok di wilayah tersebut.
Menanggapi antrean panjang truk Biosolar yang kerap terjadi di Bulungan, Pertamina menyiapkan strategi pengaturan jam operasional. Rencananya, Pertamina akan berkoordinasi dengan Hiswana Migas dan empat pengelola SPBU reguler di Bulungan untuk membuka layanan penjualan Biosolar secara bersamaan sejak pagi hari.
“Langkah ini diambil untuk memecah konsentrasi kendaraan agar tidak menumpuk di satu SPBU saja. Kami akan memetakan lokasi mana saja yang memungkinkan untuk dibuka serentak guna mengurai antrean tersebut,” pungkasnya. (ary)











Discussion about this post