Menu

Mode Gelap
Capaian WTP Harus Berkorelasi dengan Pembangunan Daerah Gubernur Bantu Pembangunan Masjid Al Ikhlas Polairud Polda Kaltara Gubernur Santuni Pemilik Taman Pendidikan Alquran (TPA) Pantai Amal yang Terbakar Percepat Herd Immunity, Kodim Tarakan Gelar Serbuan Vaksin Untuk Pelajar Sinergikan Pemerintah Pusat dan Daerah, Pemprov Gelar Rakor GWPP

Fokus · 14 Agu 2020 23:18 WITA ·

Binaan PEP Tarakan Field, Rumah Batik Kubedistik Wadah Disabilitas Untuk Berkarya dan Mandiri


Walikota Tarakan Khairul dan Agung Wibowo Field Manager PEP Tarakan Field Resmikan Rumah Batik Kubesdistik. Foto: fokusborneo.com Perbesar

Walikota Tarakan Khairul dan Agung Wibowo Field Manager PEP Tarakan Field Resmikan Rumah Batik Kubesdistik. Foto: fokusborneo.com

TARAKAN – Jangan sampai Disabilitas merasa tidak berguna, menjadi beban keluarga dan masyarakat. Dengan segala keterbatasan secara fisik, Disabilitas memiliki harapan dan mampu berkarya serta menghasilkan.

Hal tersebut diungkapkan Walikota Tarakan Khairul usai meresmikan rumah batik kelompok usaha bersama Disabilitas Tarakan (Kubedistik) binaan PT Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field yang beralamat di RT 07 nomor 05 Kelurahan Kampung 1 Skip Kecamatan Tarakan Tengah Kota Tarakan, Jum’at (14/8/2020).

“Dengan adanya program dari Pertmina EP Tarakan Field ini, tentu Disabilitas punya harapan. Harapan bahwa walaupun mereka secara fisik dengan segala keterbatasan, mereka tidak menjadi beban di rumah tangga dan masyarakat,” ujar Khairul.

Orang nomor satu di Tarakan ini mengatakan, Disabilitas bisa menghasilkan bahkan bisa berpenghasilan, jika mereka bisa diberikan ketrampilan. Tentunya semua punya kewajiban, bagaimana supaya rumah batik Kubedistik ini terus berkelanjutan baik produksi maupun pemasaran.

Field Manager PT Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field, Agung Wibowo mengatakan, rumah batik Kubedistik ini sebagai awal yang baik, programnya sudah dimulai sejak tahun 2019.

width"450"
width"425"

Program rumah batik Kubedistik berkaitan dengan program PEP Tarakan Field yakni propes emas, dimana pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu bentuk kewajiban perusahaan kepada masyarakat sekitar.

“Nantinya masyarakat punya usaha sendiri bisa berdikari sendiri. Alhamdulillah kawan – kawan Disabilitas ini cukup antusias, memang diawalnya cukup susah, dengan pendekatan dan pendampingan dari kami dengan pak Sonny dengan Pemerintah pelan-pelan mereka cukup tertarik,” ungkap Agung Wibowo.

Dengan upaya menjelaskan pelan-pelan kepada orang tuanya, kepada sekolah secara pelan-pelan Disabilitas mulai bergerak dan berkeinginan untuk berkarya. Dari 5 orang pada awalnya saat ini anggota Kubedistik sudah mencapai 25 orang.

“Cukup rajin saya lihat, tapi memang kita harus sabar, kita harus memberikan penjelasan dan pengarahan itu harus pelan-pelan dan butuh waktu serta tidak bisa instan dan itu menjadi tantangan kami,” tuturnya.

Agung mengatakan, uniknya di Kubedistik disini yakni batik dengan pewarna alam, warna-warna yang ada di alam diambil, diolah, didaur ulang dan lebih ramah lingkungan.

“Produksi kain batik Kubedistik saat ini sudah digunakan oleh jajaran manajemen PEP Tarakan Field lebih lanjut nanti untuk karyawan, dan saat ini sudah ada pesanan untuk ASN Pemkot Tarakan,” katanya.

Pembina Kubedistik Sonny Lolong mengatakan, sejauh ini Disabilitas yang tergabung di Kubedistik sudah memahami membatik, dari awal sampai akhir, namun tetap diawasi dan dibimbing seperti pewarnaan yang kurang sempurna dilakukan perbaikan.

“Ada beberapa hal teknis yang mungkin mereka kurang sempurna, kita betulkan terutama dalam proses pewarnaan, ketika mereka salah saya tidak pernah tegur atau marah, karena ini proses belajar,” katanya.

Sementara untuk motif batik saat ini sudah mulai berkembang cukup banyak, selain motif dari Pertamina, ada motif Tarakan terutama motif Padaw Tuju Dulung untuk seragam PNS Tarakan.

Dari 25 Disabilitas, 15 orang merupakan penyandang tuna rungu sisanya tuna grahita, tuna daksa dan 2 orang sempurna.

“Secara kelompok, Disabilitas mampu memproduksi kain batik dalam seminggu sekitar 20 lembar, yakni kain yang sudah sempurna dan layak untuk dijual,” tutur Sonny.

2 Orang Disabilitas Yang Tergabung di Kubesdistik Sedang Melakukan Proses Pewarnaan Batik khusus ASN Tarakan. Foto: fokusborneo.com

Mewakili rekan Disabilitas, Lina mengatakan, agak sedikit kesulitan dalam membatik khususnya saat melorot kain batik atau melepaskan lapisan lilin pada batik.

“Ada sedikit kesulitan untuk membatik, yang sulit itu mulai melorot kain batik karena kan fisik ya, kalau mereka kan bisa (sambil melihat rekanya), saya juga masih proses belajar,” katanya singkat.

Tidak sampai disini, kedepan PEP Tarakan Field juga menargetkan branding atau penjualan, target saat ini memang paling efektif media sosial, kedepan juga akan menyasar market yang lebih luas seperti, batik modern, toko modern, bahkan media massa juga akan dilibatkan. (wic/iik)

 

Print Friendly, PDF & Email
Artikel ini telah dibaca 210 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Merdeka!! Merah Putih Kembali Berkibar di Gunung Rian Tana Tidung

18 Agustus 2022 - 15:11 WITA

Embung Binalatung Kering, 13 Ribu Pelanggan Terdampak

18 Agustus 2022 - 14:39 WITA

Duplikat Bendera Merah Putih dan Naskah Teks Proklamasi Kembali ke Monas Diiringi Kirab Budaya

18 Agustus 2022 - 07:52 WITA

Saat Farel Prayoga “Goyang” HUT ke-77 RI dengan Campur Sari

18 Agustus 2022 - 05:48 WITA

Ikuti Upacara HUT ke 77 RI, Ketua DPRD Kaltara Bertugas Bacakan Naskah Proklamasi

17 Agustus 2022 - 22:08 WITA

Bangga Kenakan Pakaian Daerah, Wujud Kecintaan Terhadap Keragaman

17 Agustus 2022 - 16:21 WITA

Trending di Advetorial
error: Alert: Content is protected !!