Menu

Mode Gelap

Olah Raga · 2 Mar 2022

dr Khairul dan Tenis


					dr Khairul dan Tenis Perbesar

Saya mengenal baik dr Khairul. Sering berjumpa, tapi bukan di kantor. Atau di rumah dinas. Pertemuan saya lebih sering di Lapangan Tenis Indoor Telaga Keramat. Tidak terasa sudah tiga tahun Ia menjadi Walikota ke 4 Tarakan. Bagaimana kiprahnya di lapangan tenis? Berikut tulisannya.

Bagi saya, dr Khairul cukup unik. Dia begitu cepat bertransformasi. Dari dokter, birokrat lantas menjadi politisi.

Itu tidak bisa dilepaskan dari dua orang mentornya. Almarhum dr Jusuf SK dan H Udin Hianggio. Apalagi kedua tokoh itulah yang menjadi tulang punggung kemenangan dr Khairul di Pilkada lalu.

width"400"
width"400"
width"400"

Saya menyimpulkan, gaya kepemimpinan dr Khairul kombinasi dari kedua tokoh itu. Taktis dan managerial birokrasi dia pelajari dari JSK. Sedangkan membangun basis suara di akar rumput, Ia mengikuti gaya H Udin Hianggio.

width"300"
width"400"
width"400"
width"400"
width"400"

Tapi tulisan ini tidak akan membahas kiprah politik dr Khairul. Atau pencapaian pemerintahannya dalam 3 tahun. Sudah banyak dibahas. Lagian, itu tugasnya Iwan Setiawan –Dirut PDAM yang fenomenal itu menjelaskan ke publik. Bahwa pemerintahan Pak Dokter ini cukup berhasil.

width"300"
width"300"
width"300"
width"300"

Saya malah ingin bercerita kiprah Pak Dokter di lapangan tenis. Setehu saya, ada tiga olahraga yang digeluti Walikota. Sepeda, golf dan Tenis. Sepeda sering dimanfaatkanya untuk berkeliling Tarakan. Menyapa warga atau mengecek proyek-proyek pemerintah. Itu pun seminggu sekali.

width"400"
width"400"

Sedangkan golf, Pak Dokter hanya menemani anak sulungnya yang memang hobby golf. Itu pun jarang. Nah, Tenis yang lebih rutin. Dia punya jadwal khusus seminggu tiga kali. Senin, Rabu dan Jumat. Sesuai jadwal Pelti. Dengan catatan, tidak dinas luar atau ada acara penting yang tidak bisa ditinggal.

width"200"
width"300"

Saya tidak pernah tanya, kenapa Pak Dokter lebih senang main Tenis dibandingkan olahraga lain? Mungkin saja di lapangan tenis, Ia bisa melupakan semua beban pikirin dan seabreg masalah yang harus di pecahkan.

width"400"
width"400"

Saya coba gambarkan suasana yang terjadi di lapangan kalau Pak Dokter main. Dia punya pasangan tetap Tupeng Gawe. Pemain top Tarakan yang juga anak buahnya di Pemkot. Sedangkan saya berpasangan dengan Diyanto Bayu Saputro, juga salah satu stafnya. Permainan belum dimulai sudah olok-olokan. Adu geretak.

width"400"
width"400"

“Bola kalah,” katanya sambil melempar bola ke saya yang siap-siap melakukan servis pertama. “Ayo Yu, kita kasih kalah Walikota, palingan kau dimutasi,” kata saya ke Bayu. “Kurang ajar kau Pai,” jawabnya sambil ngakak.

width"400"
width"400"

Permainan dimulai. Habis terima servis saya, Pak Dokter maju ke depan net. Jaraknya hanya setengah meter. Tiba-tiba bola pengembalian kami di serobot. “Hancur musuh,” katanya sambil teriak.

Nah, Kadang-kadang datang usil saya ngerjain Pak Dokter. Apalagi saya bukan ASN, jadi gak ada beban. Beda dengan Bayu, dia gak bakalan berani ngerjain bosnya.

Saya pancing Pak Dokter ke depan net. Gak sadar dia maju. Saya kasih bola rendah persis di depannya. Dia kembalikan, saya kasih lagi lebih rendah. Tapi saya twice sedikit. Pak Dokter pikir bolanya seperti tadi. Pas dia ayun raketnya kuat-kuat nda kena. Ya iyalah, bolanya kan mentul ke kanan.

“Kimbenya kau Pai,” teriaknya sambil mengumpat. Saya yang berada persis di depannya, loncat-loncat. “Hancur musuh,” balas saya sambil tertawa puas bisa “ngerjain” Walikota.

Begitulah suasana di lapangan tenis. Ketawa sepanjang permainan. Gak berjarak. Cair. Keringat pun deras bercucuran. Malah sampai tejerungkup ngejar bola di depan net. Selesai main pun, masih bercanda. Membahas momen-momen lucu. Bukan bahas politik. Apalagi proyek.

“Di Tarakan ini cuma si Tupeng yang berani suruh Walikota “mundur.” Yang lain mana berani. Habis kalau gak mundur, kena smesh si Bayu Walikota,” ujar saya sambil terkekeh. “Yang penting musuh hancur,” balasnya.

Lapangan tenis memang menjadi pelarian dari beban pekerjaan yang berat. Di tempat itulah, Pak Dokter melepaskannya. Olah raga sekaligus bercanda. Menang kalah jadi tidak penting. Tapi rasa-rasanya Ia tidak pernah kalah. Dan saya pun tidak pernah menang. Tapi gak tau kalau sore ini.

Selamat menjalankan tugas di dua tahun sisa masa bhakti mu Pak Dokter. “Jus Jambu.” (penulis: Doddy Irvan)

Artikel ini telah dibaca 118 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

Pleno Tanpa Makna

27 Agustus 2025 - 21:40

Bupati Tana Tidung Buka Pekan Kebudayaan Daerah Lewat Lomba Olahraga Tradisional

27 Agustus 2025 - 14:08

Bripda Ardhika, Perenang Batalyon A Brimob Kaltim Borong Enam Emas dan Tiga Perak Kejuaraan Bupati Paeser Open Cup 2025

26 Agustus 2025 - 15:08

Prajurit Yonarhanud 7/ABC Gapai Prestasi Membanggakan di Tingkat Nasional dan Internasional

25 Agustus 2025 - 20:29

Atlet Menembak Kaltara Raih Juara Internasional Bali IPSC Open 2025 Level III

24 Agustus 2025 - 17:05

Tarakan dan Memori Perang Dunia II: Mengubah Luka Menjadi Pesona

23 Agustus 2025 - 18:15

Trending di Opini