TARAKAN, Fokusborneo.com – Kenaikan harga dan kelangkaan gas LPG yang sering meresahkan warga pesisir Juata Laut, Kota Tarakan, kini menemukan titik terang.
Sekelompok mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Jurusan Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Borneo Tarakan (UBT) berhasil menciptakan inovasi eco-briket dari limbah ranting mangrove yang dapat menjadi alternatif energi terbarukan.

Inovasi ini lahir dari keprihatinan mahasiswa melihat kondisi di Juata Laut yang belum terjangkau jaringan gas alam.



Akibatnya, masyarakat harus merogoh kocek dalam, hingga Rp 80.000 per tabung, hanya untuk mendapatkan gas LPG.





Tidak hanya memperkenalkan produk, tim mahasiswa UBT juga menggelar pelatihan langsung bersama ibu-ibu PKK setempat. Mereka diajak terlibat aktif, mulai dari proses pencampuran bahan, pencetakan, hingga pengeringan briket.





“Kami ingin warga tidak hanya menerima manfaat, tapi juga punya keterampilan untuk memproduksi sendiriDengan banyaknya ekosistem mangrove di pesisir Tarakan, limbah ranting yang sering terbuang bisa dimanfaatkan jadi sumber energi ramah lingkungan,” jelas Nur Fadillah, ketua tim PKM-PM.


Salah satu peserta pelatihan, Ibu Rumah Tangga (IRT) Ani dari RT 12, mengaku sangat terbantu.



“Alhamdulillah, kami sekarang punya pilihan lain kalau gas langka atau mahal. Kami juga jadi tahu cara buatnya,” ungkapnya penuh rasa syukur.



Kegiatan ini membuktikan bahwa mahasiswa UBT tidak hanya berinovasi, tetapi juga memberdayakan masyarakat agar mampu menghadapi keterbatasan energi.


Inisiatif ini tidak hanya menjadi solusi praktis, tetapi juga langkah nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui pemanfaatan limbah mangrove.(**)

