TARAKAN, Fokusborneo.com – Program Studi (Prodi) Teknik Elektro Universitas Borneo Tarakan (UBT) menunjukkan komitmen serius dalam meningkatkan kualitas akademik dengan menargetkan akreditasi Unggul pada reakreditasi tahun 2027.
Upaya strategis ini diwujudkan melalui kerja sama intensif, termasuk program magang dan detasering dosen dengan Departemen Teknik Elektro Universitas Hasanuddin (Unhas), yang saat ini berstatus akreditasi Unggul.
Ketua Jurusan Teknik Elektro UBT, Dr. Ir. Patria Julianto, S.T., M.T., IPM, mengungkapkan kerja sama ini sangat vital. Tujuh hari program magang dan detasering di Unhas diikuti lima perwakilan UBT terdiri dari empat dosen dan satu staf tendik.
“Kami banyak sekali mendapatkan informasi, pengalaman, dan best practice dari Unhas, terutama yang terkait dengan akademik, kurikulum, riset, pengajaran, tata kelola program studi, dan penjaminan mutu,” jelas Dr. Patria, Sabtu (29/11/25).
Ia mencontohkan, Unhas telah matang dalam penerapan kurikulum berbasis luaran (Outcome Base Education/OBE) dan mata kuliah Capstone Design. UBT sendiri baru mengimplementasikan OBE pada 2025.
Di bawah kurikulum baru ini, UBT wajib menyediakan 25 SKS untuk mata kuliah basic science dan matematika, yang pengajarannya harus ditangani dosen murni dari bidang ilmu tersebut, bukan oleh engineer.
“Kami juga mempelajari penerapan Capstone Design di Unhas, yaitu mata kuliah berbasis permasalahan di masyarakat yang harus dipecahkan oleh mahasiswa sesuai dengan keilmuan Teknik Elektro. Ini yang akan kami tiru,” tambahnya.
Upaya UBT mendapat dukungan penuh dari Prof. Faizal, Ketua Departemen Teknik Elektro UNHAS sekaligus Wakil Ketua Umum Forum Teknik Elektro Indonesia (FORTEI).

Prof. Faizal menekankan peningkatan kualitas dosen adalah kunci untuk mendongkrak reputasi perguruan tinggi, yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai akreditasi.
“Kami sudah berbagi materi bagaimana strategi untuk meningkatkan akreditasi tinggi. Dosen-dosen juga diberi upgrading untuk meningkatkan kapasitas komunikasi dan reputasi,” ujar Prof. Faizal.
Ia juga menyoroti kebutuhan UBT akan tambahan Sumber Daya Manusia (SDM) dosen bergelar Doktor, serta perbaikan fasilitas. Meskipun jumlah dosen Teknik Elektro UBT saat ini baru 9 orang, Prof. Faizal menyarankan solusi jangka pendek dengan menambah dosen dari prodi lain yang memiliki kualifikasi S3, sambil terus membuka rekrutmen.
Prof. Faizal juga mendorong UBT, sebagai universitas di kawasan yang kaya potensi energi seperti Tarakan, untuk fokus pada riset-riset yang relevan, terutama di bidang Energi Terbarukan.
“UBT harus bisa menjadi Killer di sini, sebagai sumber inspirasi dan ide-ide untuk memperbaiki status kapasitas. Contohnya, riset energi hidrogen, seperti membuat motor boat dengan bahan bakar air laut. Ini bisa menjadi frontier menarik bagi Borneo,” tegasnya.
Prof. Faizal menawarkan kolaborasi riset melalui skema yang lebih intensif dengan Unhas seperti research fellow, yang memungkinkan dosen UBT terlibat dalam proyek-proyek besar.
Dr. Patria Julianto menyatakan peningkatan mutu dan kualitas organisasi serta luaran, termasuk kualitas dan kuantitas riset, adalah fokus utama selama dua tahun ke depan.
“Target kami di reakreditasi 2027 bisa mendapatkan akreditasi Unggul. Jika kami mendapatkan akreditasi yang sama dengan kampus-kampus besar seperti ITB, ITS, atau Unhas, itu artinya proses pembelajaran dan luaran kami dapat dianggap setara,” pungkas Dr. Patria.
Dukungan dari Rektorat, Pemerintah Daerah (Pemda), dan industri sekitar seperti Pertamina maupun perusahaan lainnya juga dinilai krusial untuk memastikan UBT dapat menghasilkan alumni yang mampu menjadi tuan rumah di kampung sendiri dan mendukung konsep Rektor untuk membangun universitas entrepreneur.(*/mt)













Discussion about this post