TARAKAN – Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Perencanaan, dan Kerjasama Universitas Borneo Tarakan (UBT), Rukisah, menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam menghadapi era transformasi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI). Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Capacity Building Gensi yang diinisiasi oleh Indosat Ooredoo Hutchison dan Nokia pada Selasa (10/02/2026).
Dalam sambutannya, Rukisah mengapresiasi langkah Indosat yang secara konsisten membawa teknologi kelas dunia ke daerah, termasuk Tarakan. Ia menyoroti prestasi Indosat sebagai perusahaan pertama di dunia yang mengimplementasikan AI Radio Access Network (AI-RAN), sebuah inovasi yang sebelumnya juga diakui di ajang internasional seperti di Barcelona pada 2025.
Inovasi untuk Negeri: Dari Budidaya hingga Pertambangan
Rukisah berbagi pengalamannya mengenai bagaimana teknologi Indosat dapat menyentuh sektor riil, seperti penggunaan alat sensor berbasis data untuk mengukur kualitas air di tambak secara real-time.
“Dulu saya penasaran bagaimana mengukur kualitas air tanpa harus menebak-nebak. Dengan alat-alat ini, kita bisa memantau secara real-time. Ini membuktikan Indosat hadir untuk memberdayakan potensi yang ada guna membantu Indonesia menuju negara maju,” ujarnya.
Ia juga menyinggung keterlibatan Indosat dalam industri strategis melalui inisiatif seperti AI Day Mining Industry, yang mengadopsi AI untuk efisiensi di sektor pertambangan.
Mengingat sejarah perkembangan teknologi, Rukisah merefleksikan bagaimana pandemi COVID-19 memaksa dunia untuk beradaptasi dengan cepat. Ia mencontohkan aplikasi Zoom yang awalnya digagas pada tahun 1990-an karena alasan personal (jarak jauh antar kekasih), namun akhirnya menjadi kebutuhan global yang sangat stabil di masa krisis.
“AI saat ini membuat kita bekerja lebih mudah, cepat, dan valid. Namun, kita tidak boleh melupakan dampak sosial dan etika. Jangan sampai kita menerima informasi mentah-mentah yang ternyata hoax,” tegasnya.
Kepada para mahasiswa dan peserta yang hadir, Rukisah mengingatkan bahwa penguasaan aspek teknis harus dibarengi dengan pemahaman etika dan hukum, terutama terkait Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
“Selain paham matematika dan teknis, yang paling utama adalah etika penggunaan alat tersebut. Jangan sampai kita terjerat persoalan hukum karena tidak paham aturan informasi,” tambahnya.
Menutup sambutannya, Rukisah yang juga menyampaikan salam hangat dari Rektor UBT yang sedang berada di Jakarta untuk urusan penerimaan mahasiswa baru, meminta para mahasiswa untuk serius menyerap ilmu dari para pakar yang hadir.
“Indosat memberikan perhatian serius bagi Tarakan. Kesempatan belajar langsung dari praktisi Indosat dan Nokia ini sangat mahal harganya jika dicari di luar sana. Ini momentum langka, jadi tolong diseriusi,” pungkasnya.
Acara ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri teknologi dalam mencetak generasi muda yang siap bersaing di kancah global melalui penguasaan teknologi AI yang bertanggung jawab. (**)














Discussion about this post