TARAKAN, Fokusborneo.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Supa’ad Hadianto, menggelar kegiatan Sosialisasi Peraturan Daerah (Sosperda) Provinsi Kaltara Nomor 15 Tahun 2024 tentang Penanggulangan Penyakit Menular di Ponles, Kampung Bugis, Kota Tarakan, Sabtu, (29/11/25).
Acara yang bertujuan memberikan pemahaman mendalam tentang regulasi kesehatan ini, mengundang para tokoh masyarakat, Ketua RT, dan perwakilan warga se-Kota Tarakan.
Hadir juga narasumber Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Provinsi Kaltara, Usianya, Perwakilan BPJS Kesehatan dan RSUD dr. Jusuf SK.
Supa’ad Hadianto, dalam sambutannya, menjelaskan latar belakang pentingnya Perda ini. Ia menuturkan bahwa semangat pembentukan Perda ini muncul dari pengalaman selama pandemi COVID-19 yang menyebabkan kecemasan meluas di masyarakat.
”Kenapa ada Perda yang seperti ini? Semangat kita itu pada saat COVID-19. Banyak masyarakat yang begitu mencekam,” ujar Supa’ad.
Ia menekankan Penyakit Menular tidak hanya terbatas pada COVID-19, tetapi mencakup banyak jenis lainnya. Oleh karena itu, Perda ini hadir sebagai payung hukum untuk langkah pencegahan, penanggulangan, hingga penanganan secara medis.
Politisi NasDem ini juga mendorong peserta yang hadir untuk dapat menjadi edukator di lingkungannya masing-masing.
Dalam kegiatan ini, Supa’ad juga menyoroti komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara dalam bidang kesehatan, terutama bagi masyarakat kurang mampu.
”Saya hadirkan juga BPJS karena banyak sekali keluhan masyarakat kita berdiskusi. Kemudian Pak Usman selaku Kepala Dinas Kesehatan akan menyampaikan di APBD tahun 2024 itu ada namanya BPJS gratis bagi masyarakat yang kurang mampu,” jelasnya.
Anggaran yang disiapkan untuk BPJS gratis ini, lanjutnya, mencapai Rp26 miliar, yang terdiri dari anggaran awal Rp20 miliar di APBD murni dan penambahan sebesar Rp6 miliar di APBD Perubahan.
Hal ini menunjukkan konsentrasi Gubernur dan jajaran terhadap kesehatan dan pendidikan, karena bangsa akan maju jika masyarakatnya cerdas dan memiliki kesehatan fisik dan batin yang kuat.
Ia juga sempat menyinggung keluhan masyarakat terkait pelayanan BPJS di rumah sakit, khususnya mengenai durasi rawat inap.
“Nanti Pak Dokter dari rumah sakit umum akan menjelaskan. Bukan itu sebenarnya, ternyata pelayanan BPJS itu sampai tuntas, sampai betul-betul wujud ini dari dokter yang menangani itu tuntas baru dikeluarkan,” tegasnya.

Supa’ad juga menyebutkan rencana perubahan sistem di BPJS Kesehatan, yakni dengan hadirnya sistem Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) sesuai Peraturan Kementerian Kesehatan.
Sistem ini diusulkan tidak lagi mengenal kelas dalam pelayanan, namun ia menyerahkan penjelasan detailnya kepada narasumber dari pihak kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltara, Usman, yang hadir sebagai narasumber, menjelaskan lebih lanjut tentang konsep penyakit menular dan pentingnya upaya penanggulangan.
Usman memaparkan penyakit menular adalah penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme, virus, atau bakteri.
Penyakit menular dapat terjadi secara langsung seperti TBC dan Kusta atau tidak langsung melalui vektor/binatang seperti Demam Berdarah.
”Dalam penanggulangan penyakit menular ini kenapa harus ada (Perda)? Karena kita walaupun sekarang kondisinya sudah berkurang, tapi masih sering terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB),” jelas Usman.
Ia menambahkan KLB bahkan bisa terjadi hanya dengan satu kasus baru, dan yang meluas disebut sebagai pandemi, seperti yang pernah terjadi dengan COVID-19.
Tujuan Perda ini adalah untuk memperkuat upaya penanggulangan, mulai dari pencegahan hingga penanganan kasus. Salah satu masalah yang masih disoroti adalah Tuberkulosis (TBC).
”Sampai sekarang TBC masih menjadi masalah mengapa? Karena masih ada stigma, kita malu kalau dikatakan penyakit TBC sehingga tidak mau mendatangi proses pengobatan,” ungkap Usman.
Ia juga menekankan TBC bisa disembuhkan, namun masyarakat seringkali berhenti minum obat sebelum tuntas setelah merasa sehat, yang justru menyebabkan resistensi obat.
Usman juga mengingatkan penyakit yang saat ini banyak diderita masyarakat adalah penyakit Tidak Menular (PTM) seperti Hipertensi, Stroke, dan Diabetes Melitus (DM), yang disebabkan perubahan gaya hidup.(*/mt)














Discussion about this post