TARAKAN, Fokusborneo.com – Komisi II DPRD Kota Tarakan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) guna membedah kendala akses permodalan perbankan bagi para pelaku usaha perikanan, khususnya petani rumput laut.
Rapat yang berlangsung di Ruang Pertemuan DPRD Kota Tarakan, Rabu (7/1/26) ini, menghadirkan pihak Bank Indonesia (BI) Kaltara, Dinas Perikanan, perwakilan perbankan (Mandiri, BRI, BNI, BTN), serta Komunitas Pengusaha Rumput Laut.
Ketua Komisi II DPRD Kota Tarakan, Simon Patino, mengungkapkan pertemuan ini merupakan inisiasi langsung dari para nelayan rumput laut yang merasa kesulitan menembus akses pinjaman dana ke perbankan. Padahal, modal tersebut sangat krusial untuk keberlanjutan operasional mereka.
”Banyak nelayan kita yang mulai berguguran dan pulang kampung karena tidak punya modal lagi untuk melaut atau membuat jaring. Kita khawatir, jangan sampai proyek Resi Gudang yang sedang dibangun pemerintah nanti justru kosong karena tidak ada lagi petani yang berproduksi,” tegas Simon.
Dalam diskusi tersebut terungkap permasalahan utama bukan terletak pada perizinan, melainkan pada aspek administratif dan riwayat kredit.
“Kalau untuk NIB dan dokumen pendukung lainnya sudah dibantu oleh Dinas Perikanan dan dinyatakan tidak bermasalah,” jelasnya.
Hanya saja kendala sering muncul pada proses BI Checking dan adanya riwayat kredit macet di masa lalu yang membuat pengajuan baru tertahan.
“Untuk modal sendiri, sebenarnya nelayan rata-rata membutuhkan pinjaman kecil di kisaran Rp20 juta hingga Rp30 juta, yang sebenarnya masih masuk dalam skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan limit hingga Rp500 juta,” tambahnya.
Simon Patino meminta Dinas Perikanan Kota Tarakan tidak hanya memberikan bantuan fisik seperti alat tangkap atau mesin, tetapi juga melakukan pendampingan manajerial.
”Saya minta Dinas Perikanan mendampingi proses pinjaman teman-teman ke perbankan. Berkoordinasi dengan Ketua Koperasi, Pak Rivai, kawal terus sampai ketahuan hasilnya, apakah berhasil atau gagal,” ujarnya.
DPRD Tarakan berencana melakukan evaluasi per semester untuk melihat sejauh mana progres penyaluran modal ini. Simon menekankan pentingnya menganalisis akar masalah secara mendalam.
”Kita akan evaluasi setiap semester. Apakah kendalanya benar-benar di permodalan atau ada hal lain. Pihak perbankan sendiri menyatakan siap mendukung selama sesuai aturan yang berlaku. Harapan kami, dengan pendampingan ketat, kita bisa temukan solusi permanen agar sektor rumput laut Tarakan kembali bergairah,” tutupnya.(*/mt)















Discussion about this post