BALIKPAPAN, Fokusborneo.com — Upaya Pemerintah Kota Balikpapan menuju kota yang ramah lingkungan dan bebas sampah terus diperkuat melalui berbagai program strategis, salah satunya penguatan bank sampah berbasis masyarakat.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan menargetkan pengurangan sampah hingga 50 ton per hari dengan memperluas jangkauan dan efektivitas pengelolaan sampah di tingkat kelurahan.
Langkah ini diharapkan menjadi strategi utama dalam menekan jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar, Balikpapan Timur.
Kepala DLH Balikpapan, Sudirman Djayaleksana menjelaskan pengelolaan sampah dari hulu menjadi kunci keberhasilan program ini.
“Saat ini jumlah unit bank sampah sudah mencapai sekitar 205 hingga 210 unit. Kami dorong pengelolaan dimulai dari rumah tangga. Sampah harus dipilah sebelum dibuang ke TPS, hanya residu yang tidak bisa didaur ulang yang masuk ke TPA,” ujarnya.
Sudirman menambahkan, pemerintah kota menargetkan setiap kelurahan memiliki minimal enam bank sampah aktif. Dengan jumlah tersebut, diharapkan setiap kecamatan mampu memangkas timbunan sampah antara 5 hingga 10 ton per hari.
Jika seluruh kecamatan berpartisipasi maksimal, pengurangan sampah di Balikpapan bisa mencapai 50 ton per hari atau sekitar 550 ton per bulan.
“Ini adalah target ambisius, tapi kami optimistis bisa dicapai dengan partisipasi aktif masyarakat,” kata Sudirman.
Menurut Sudirman, kesuksesan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat tidak hanya diukur dari jumlah sampah yang berhasil dikurangi, tetapi juga dari meningkatnya kesadaran publik terhadap pentingnya kebersihan dan lingkungan yang sehat.
“Pengurangan sampah bukan sekadar soal angka. Ini adalah upaya membangun kesadaran bersama untuk menjaga kota tetap bersih dan sehat. Pemilahan sampah harus menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar imbauan,” tegasnya.
Selain itu, Sudirman menjelaskan DLH tengah menyiapkan dukungan infrastruktur untuk memaksimalkan pengelolaan bank sampah. Hal ini mencakup penyediaan mesin, peralatan, dan operasional harian bank sampah.
Pemerintah kota juga merancang sistem pengelolaan yang terdesentralisasi agar setiap unit bank sampah mampu beroperasi mandiri dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Kami ingin masyarakat melihat sampah bukan sekadar limbah, tapi juga bisa bernilai ekonomi. Dengan konsep ekonomi sirkular ini, sampah menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga,” ujarnya.
Langkah penguatan bank sampah ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen Balikpapan menuju kota hijau dan berkelanjutan, sejalan dengan target pengurangan ketergantungan terhadap TPA.
DLH juga mengimbau masyarakat untuk aktif berperan serta dengan memilah sampah di rumah, membuang sampah pada tempatnya, dan memanfaatkan fasilitas bank sampah secara maksimal.
Sudirman menambahkan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.
“Tanpa dukungan masyarakat, program ini tidak akan berjalan optimal. Kesadaran kolektif adalah fondasi dari keberlanjutan program pengelolaan sampah di Balikpapan,” pungkasnya. (*)














Discussion about this post