• About Us
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Fokus Borneo
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • KPH Tarakan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
    • Parlemen
  • Rubrik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Olah Raga
    • Sosial Budaya
    • Hiburan
    • Energi
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • KPH Tarakan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
    • Parlemen
  • Rubrik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Olah Raga
    • Sosial Budaya
    • Hiburan
    • Energi
  • Opini
No Result
View All Result
Fokus Borneo
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Advetorial
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • KPH Tarakan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olah Raga
  • Sosial Budaya
  • Travel
  • Energi
  • Hiburan
  • Opini
Home Opini

Ibu Sehat Bahagia, Keluarga Tangguh: Dari Rahim Kesadaran Lahir Ketahanan Bangsa

Refleksi Hari Ibu Nasional, 22 Desember 2025

by Redaksi
22 Desember 2025 05:49
in Opini
A A
Ibu Sehat Bahagia, Keluarga Tangguh: Dari Rahim Kesadaran Lahir Ketahanan Bangsa

Bahar Mahmud, S.Pd.Gr (Guru SMAIT Ulul Albab Tarakan). Foto: ist

TARAKAN, Fokusborneo.com – Kita rajin memuji ibu sebagai pahlawan, mengangkatnya ke “langit” dengan kata-kata, bahkan menjanjikan surga di bawah telapak kakinya. Namun terlalu sering, kita lupa membersihkan jalan yang ia pijak. Di balik rumah yang tampak baik-baik saja, ada ibu yang menahan lelah sendirian-tubuhnya diabaikan, jiwanya jarang ditanya kabarnya.

Bangsa ini tidak kekurangan slogan tentang ketahanan, tetapi kerap lupa pada satu fakta sederhana: tidak ada keluarga yang tangguh, apalagi bangsa yang kuat, jika para ibunya hidup dalam kelelahan yang dinormalisasi.

Baca Juga

BI Tahan Bunga Acuan

MBG: Investasi Besar, Perlu Desain Cermat

Dengan QRIS Jualan Makin Sat-Set, Rezeki Makin Tak Seret!

Wujudkan Pendidikan Teologi Berintegritas

Ketika ibu terus diminta kuat tanpa diberi ruang untuk sehat dan bahagia, yang kita bangun bukan ketangguhan, melainkan kelelahan yang diwariskan lintas generasi.

Karena itu, Hari Ibu bukan sekadar ucapan dan seremoni tahunan. Ia adalah cermin Iman, kemanusiaan, dan nasionalisme kita, sekaligus alarm keras bahwa ada yang harus dibenahi dalam cara kita memperlakukan ibu di negeri ini.

Sejarah Hari Ibu Indonesia lahir dari kesadaran tersebut. Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928 bukanlah perayaan simbolik, melainkan perjuangan martabat, pendidikan, dan keadilan bagi perempuan. Sejak awal, Hari Ibu dimaksudkan sebagai hari kesadaran sosial, bukan hari seremonial. Maka pertanyaan penting hari ini bukan seberapa indah kita memuji ibu, tetapi seberapa sungguh kita menjaga kehidupannya.

Dalam realitas sehari-hari, ibu memikul peran yang berlapis. Ia menjadi pengasuh, pendidik pertama, penjaga emosi keluarga, pengelola rumah, bahkan penyangga ekonomi. Namun di balik peran besar itu, kelelahan ibu sering dianggap kewajaran, sakit dianggap kurang sabar, dan kebutuhan akan jeda dianggap kelemahan. Inilah ketidakadilan yang kerap kita wariskan tanpa sadar, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Padahal spiritualitas tidak pernah mengajarkan penghapusan hak atas kesehatan dan kebahagiaan. Iman justru menuntun pada keseimbangan. Menjaga tubuh, menenangkan jiwa, dan merawat diri adalah bagian dari amanah kehidupan.

Ibu yang bahagia bukan ibu yang lalai, melainkan ibu yang mampu mencintai dan mendidik dengan utuh karena dirinya sendiri tidak kosong.

Jika kita sungguh ingin membenahi cara memperlakukan ibu, maka perubahan harus dimulai dari kesadaran paling dasar.

Pertama, hentikan normalisasi kelelahan ibu. Lelah adalah sinyal kemanusiaan, bukan aib. Meminta bantuan bukan kegagalan, melainkan ikhtiar agar keluarga tetap sehat dan utuh.

Kedua, benahi pembagian peran di dalam keluarga. Ketangguhan tidak lahir dari satu orang yang memikul segalanya. Ia tumbuh dari kerja sama, saling menopang, dan kesadaran bahwa rumah adalah amanah bersama, bukan beban sepihak.

Ketiga, tempatkan kesehatan ibu sebagai prioritas publik dan nasional. Ibu yang sehat melahirkan generasi yang sehat. Bangsa yang serius membangun masa depan tidak akan mengabaikan kesehatan fisik dan mental para ibunya, karena dari sanalah kualitas manusia Indonesia ditentukan.

Keempat, luruskan cara kita memahami spiritualitas. Iman bukan alasan untuk membiarkan ibu hancur dalam pengorbanan sunyi. Justru menjaga diri, menjaga martabat hidup, dan menjaga keseimbangan adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral.

Kelima, belajar mendengar suara ibu. Bukan hanya menuntut perannya, tetapi menghargai pandangannya, pengalamannya, dan kebijaksanaannya dalam menentukan arah keluarga dan kehidupan.

Membenahi cara kita memperlakukan ibu sejatinya adalah membenahi arah peradaban. Dari ibu yang dihormati lahir keluarga yang saling menguatkan. Dari keluarga yang saling menguatkan lahir Bangsa yang tidak rapuh menghadapi krisis, tidak mudah retak oleh perbedaan, dan tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman.

Pada akhirnya, memuliakan ibu bukan soal seberapa sering kita mengucapkannya, melainkan seberapa sungguh kita menjaganya. Sebab dari tubuh ibu yang sehat lahir generasi yang kuat, dan dari jiwa ibu yang bahagia mengalir ketenangan ke seluruh rumah. Di sanalah doa menemukan bentuknya, iman menjelma tindakan, dan cinta bekerja tanpa perlu banyak kata.

Jika kita ingin Bangsa ini kokoh menghadapi zaman yang gelisah, maka mulailah dari hal paling mendasar: jangan biarkan ibu berjalan sendirian. Ringankan bebannya, dengarkan suaranya, jaga kesehatannya, dan muliakan kehidupannya. Karena ibu bukan hanya tiang rumah, ia adalah cahaya yang menuntun arah.

Hari Ibu bukan sekadar tanggal di kalender. Ia adalah panggilan nurani untuk kembali adil, kembali peduli, dan kembali manusiawi. Dan ketika kita sungguh menjaga ibu dengan kesadaran dan cinta, saat itulah keluarga menemukan ketangguhannya, dan bangsa ini berdiri tegak bukan karena kekuasaan, melainkan karena rahmat yang dijaga bersama.

Penulis: Oleh: Bahar Mahmud, S.Pd.Gr (Guru SMAIT Ulul Albab Tarakan)

 

Tags: Bahar MahmudHari IbuHeadlineibuSMAIT Ulul Albab

Berita Lainnya

BI Tahan Bunga Acuan
Ekonomi

BI Tahan Bunga Acuan

23 Februari 2026 17:19
Opini

MBG: Investasi Besar, Perlu Desain Cermat

14 Februari 2026 09:35
Dengan QRIS Jualan Makin Sat-Set, Rezeki Makin Tak Seret!
Ekonomi

Dengan QRIS Jualan Makin Sat-Set, Rezeki Makin Tak Seret!

27 Januari 2026 22:53
Wujudkan Pendidikan Teologi Berintegritas
Opini

Wujudkan Pendidikan Teologi Berintegritas

22 Januari 2026 05:50
QRIS: Meningkatkan Efisiensi dan Keamanan Transaksi di Pelabuhan Speed Boat
Ekonomi

QRIS: Meningkatkan Efisiensi dan Keamanan Transaksi di Pelabuhan Speed Boat

21 Januari 2026 20:26
Begini Cara Thailand Memajukan UMKM dan Memuliakan PKL
Ekonomi

Begini Cara Thailand Memajukan UMKM dan Memuliakan PKL

11 Januari 2026 19:22
Next Post

Kadis ESDM Kaltara Harap Program Pemasangan Listrik Gratis Dapat Terus Berjalan di 2026

Mengenal Program ‘Kaltara Terang di Perbatasan Negeri’, Strategi Dinas ESDM Untuk Pemerataan Listrik di Daerah 3T

Penerapan Penggunaan Sistem PLTS di Kaltara Akan Dilakukan Profesional

Penerapan Penggunaan Sistem PLTS di Kaltara Akan Dilakukan Profesional

Discussion about this post

Ikuti Kami

Ikuti Kami
  • Pilot Pesawat BBM yang Sempat Dikabarkan Selamat Dinyatakan Meninggal Dunia

    Pilot Pesawat BBM yang Sempat Dikabarkan Selamat Dinyatakan Meninggal Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketua Koperasi Selumit Curhat ke Wamenkop: “Kami Disuruh Berlari, Tapi Modal Masih Terhambat”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Desak Rute Pelni Tarakan-Surabaya Dibuka Kembali, Supa’ad Hadianto Siap Kawal ke Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penerbangan Terakhir PK-PAA dan Gugurnya Sang Pengantar Energi di Belantara Krayan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Pertanyakan TPP PPPK Tarakan Belum Cair, Ini Penjelasan BKPSDM 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Fokus Borneo

Ikuti Kami

Rubrik

  • Advetorial
  • Daerah
  • Derap Nusantara
  • Ekonomi
  • Energi
  • Fokus
  • Hiburan
  • IKN
  • Kantah Kota Balikpapan
  • Kementrian ATR/BPN
  • KPH Tarakan
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Opini
  • Otomotif
  • Parlemen
  • Pemkab Bulungan
  • Pemkab Malinau
  • Pemkab Nunukan
  • Pemkab Tana Tidung
  • Pemkot Balikpapan
  • Pemkot Tarakan
  • Pemprov Kaltara
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial Budaya
  • TNI Polri
  • Travel
  • Video

Recent News

Reses di Binusan Dalam, Rismanto Janji Kawal Aspirasi Petani dan Infrastruktur

Reses di Binusan Dalam, Rismanto Janji Kawal Aspirasi Petani dan Infrastruktur

23 Februari 2026 19:58
DPRD Kaltara Desak PT. KBM Bayar Hak Kompensasi 14 Eks Karyawan

Syamsuddin Arfah Warning Perusahaan di Kaltara, Jangan Ada Lagi Mempermainkan Hak Karyawan 

23 Februari 2026 19:39
  • About Us
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 PT KITA MEDIA GROUP

error: Content is protected !!
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
    • Parlemen
  • KPH Tarakan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olah Raga
  • Sosial Budaya
  • Travel
    • Kuliner
  • Energi
  • Hiburan
  • Opini

© 2025 PT KITA MEDIA GROUP