TARAKAN, Fokusborneo.com – Rencana penggabungan (merger) antara SMP Negeri 13 dan SMP Negeri 14 Tarakan terus bergulir. Bukan sekadar penyederhanaan administrasi, langkah ini diambil Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan sebagai solusi atas benang kusut legalitas aset dan optimalisasi fasilitas pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan Tarakan, Tamrin Toha, membeberkan alasan utama di balik wacana ini adalah status lahan SMPN 13 yang secara administratif masih tercatat sebagai aset milik SMPN 7 Tarakan. Kondisi ini membuat SMPN 13 berada di posisi sulit dalam hal pengembangan infrastruktur.
“Sulit bagi SMP 13 untuk mendapatkan bantuan revitalisasi atau pembangunan sarana dari Dapodik karena mereka tidak punya legalitas lahan sendiri. Selama asetnya masih milik SMP 7, bantuan pusat tidak bisa turun,” ujar Tamrin, Jumat (8/5/26).
Meskipun upaya pemisahan aset sudah dicoba, hingga kini belum ada titik temu yang konkret terkait status tanah tersebut.
Selain faktor lahan, fenomena penurunan jumlah siswa di area perkotaan menjadi pertimbangan serius. Dinas Pendidikan mencatat beberapa sekolah negeri kini memiliki banyak ruang kelas yang tak terisi.
Tamrin menyoroti ketimpangan fasilitas. Menurutnya, siswa di SMPN 13 dan SMPN 7 saat ini harus berdesakan untuk kegiatan olahraga. Sebaliknya, SMPN 14 memiliki ruang gerak yang sangat luas namun kekurangan murid.
“Ada paradoks di lapangan. Di satu sisi ada sekolah yang ruang geraknya sangat terbatas, di sisi lain SMP 14 punya belasan kelas yang masih kosong. Di sekolah perkotaan lain seperti SMP 4, 5, dan 11 juga terjadi penurunan jumlah pendaftar,” tambahnya.
Tamrin juga menepis kabar burung yang menyebut rencana merger ini dipicu buruknya nilai akreditasi. Ia meluruskan fokus pemerintah adalah pada pemenuhan standar sarana dan prasarana.
“Ini bukan soal nilai akreditasi yang jatuh, tapi soal bagaimana kita memenuhi syarat akreditasi itu. Tanpa lahan mandiri dan fasilitas yang memadai, mustahil kita bisa mencapai standar pendidikan yang berkualitas,” tegasnya.
Ke depannya, jika merger ini terealisasi, ruang-ruang kosong di SMPN 14 juga diproyeksikan sebagai lokasi sementara bagi program Sekolah Nasional Terintegrasi dan Sekolah Unggulan yang akan dibangun di wilayah timur Tarakan.
Meski wacana ini terus dikaji, Pemkot Tarakan menegaskan belum ada ketukan palu final.(*/mt)














Discussion about this post